Santriwati Korban Dugaan Kekerasan Seksual di Pati Minta Perlindungan
Santriwati korban dugaan kekerasan seksual di pondok pesantren Pati mengajukan perlindungan ke LPSK untuk pendampingan hukum.
Skrining TBC - Ilustrasi Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Upaya menekan angka tuberkulosis masih dihadapkan pada tantangan mendasar berupa rendahnya literasi kesehatan dan kuatnya stigma sosial. Kondisi ini membuat banyak pasien menunda bahkan enggan memulai pengobatan TBC, meski penyakit tersebut berisiko fatal dan berdampak jangka panjang, terutama pada anak.
Dokter spesialis anak subspesialis respirologi, Nastiti Kaswandani, mengungkapkan bahwa minimnya pemahaman tentang bahaya tuberkulosis menjadi pemicu utama keterlambatan pengobatan.
Banyak pasien maupun orang tua belum sepenuhnya menyadari bahwa TBC bukan sekadar batuk berkepanjangan, melainkan penyakit serius yang dapat berujung pada kematian dan kecacatan.
"TBC itu bisa menyebabkan kematian, kecacatan, kalau pada anak bisa menyebabkan potensi gangguan tumbuh kembang yang terganggu. Itu mereka biasanya belum paham sehingga seperti seolah-olah meremehkan penyakit TBC ini,” kata dokter Nastiti Kaswandani, Selasa (20/1/2026).
Dokter yang praktik di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo itu menambahkan, kendati sebagian pasien sudah memahami pentingnya pengobatan, stigma masih menjadi penghalang kuat. Rasa malu saat terdiagnosis TBC kerap membuat pasien enggan terbuka, bahkan mendorong penggunaan istilah yang keliru.
"Karena stigma dia malu kalau terdeteksi TBC sehingga kadang dokter itu mengambil istilah yang sebetulnya kurang tepat, dianggap ini flek. Padahal itu sebenarnya tidak ada istilah flek kalau dalam kamus medis, adanya TBC,” kata dia.
Selain stigma, kekhawatiran berlebihan terhadap efek samping obat juga sering membuat pasien menunda terapi. Nastiti menyebut banyak pasien takut obat TBC berdampak pada liver, meskipun kasus gangguan organ tersebut relatif jarang terjadi.
"Itu sering kali menjadi penghambat, padahal hanya sedikit saja yang mengalami permasalahan dan permasalahan itu sifatnya sementara,” ujar dokter yang tergabung dalam Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu.
Menurut Nastiti, gangguan liver selama pengobatan TBC umumnya bersifat sementara dan dapat kembali normal melalui penyesuaian dosis atau penghentian obat sementara.
"Jadi, harusnya tidak usah khawatir dengan hal itu (gangguan liver)," kata Nastiti.
Pengobatan TBC memang memerlukan komitmen jangka panjang, dengan durasi minimal enam bulan. Dalam konteks percepatan penanganan nasional, Kementerian Kesehatan telah menambah anggaran khusus pada 2026 untuk memperluas akses layanan skrining dan diagnosis tuberkulosis, terutama di wilayah dengan beban kasus tinggi, sehingga deteksi dini dan pengobatan TBC dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Santriwati korban dugaan kekerasan seksual di pondok pesantren Pati mengajukan perlindungan ke LPSK untuk pendampingan hukum.
Menkeu Purbaya dan Menteri ESDM Bahlil bahas strategi peningkatan PNBP, swasembada energi, dan listrik desa. Ini target dan datanya.
Merokok meningkatkan risiko kanker mulut secara signifikan. Ketahui penyebab, dampak, dan cara menurunkannya menurut dokter.
BGN akan menangguhkan SPPG tanpa Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi. Kebijakan ini demi menjaga kualitas Program Makan Bergizi Gratis.
Serangan Israel ke Lebanon kembali meningkat. Puluhan wilayah dihantam, korban tewas bertambah. Simak perkembangan terbaru konflik Timur Tengah.
Kesbangpol DIY menyelenggarakan pendidikan politik perempuan di Wates, Kabupaten Kulonprogo, Rabu (13/5/2026). Pendidikan ini ditujukan untuk mendorong kaum Haw