Tribun GOR Satria Purwokerto Ambruk, 75 Penonton Jadi Korban
Tribun VIP GOR Satria Purwokerto ambruk saat Drift Speed Fest. Sebanyak 75 penonton luka-luka dan dirawat di sejumlah rumah sakit.
Garam - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Selama bertahun-tahun garam kerap dicap sebagai musuh kesehatan. Berbagai tren diet dan anjuran kesehatan menekankan pentingnya mengurangi konsumsi garam. Namun, menurut ahli jantung dan spesialis transplantasi jantung, Dr. Dmitry Yaranov, perspektif itu tidak sepenuhnya tepat.
Dikutip dari Hindustan Times, Yaranov menjelaskan bahwa garam tidak selalu berbahaya. Justru, natrium sangat penting bagi tubuh, terutama dalam fungsi saraf, kontraksi otot, pengaturan cairan tubuh, hingga stabilitas tekanan darah. Namun, ada kelompok tertentu yang harus mewaspadai konsumsi garam berlebih.
“Pada tubuh tertentu, garam bukanlah bumbu. Garam adalah bahan bakar bagi penyakit,” ujar Yaranov.
1. Pasien Gagal Jantung
Yaranov memaparkan bahwa natrium berlebihan dapat memicu retensi cairan pada pasien gagal jantung. Kondisi itu memperburuk penumpukan cairan dalam tubuh, meningkatkan risiko rawat inap, bahkan berdampak pada menurunnya angka harapan hidup.
2. Hipertensi Resisten
Bagi pasien hipertensi resisten—yang membutuhkan tiga hingga empat obat untuk menstabilkan tekanan darah—garam bisa menjadi pemicu serius.
“Jika tekanan darah Anda membutuhkan tiga hingga empat obat, garam bukanlah 'netral'. Ini adalah sabotase,” tegasnya.
3. Penyakit Ginjal Kronis
Pada penderita penyakit ginjal kronis, pembatasan garam menjadi langkah penting. Asupan natrium yang tinggi dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal serta menyulitkan pengendalian volume cairan dalam tubuh.
4. Hipertensi Portal dan Asites
Konsumsi garam berlebih juga memperburuk hipertensi portal—tekanan darah tinggi pada sistem vena portal akibat sirosis hati. Retensi natrium dapat memperparah asites dengan meningkatkan tekanan di rongga perut.
5. Lansia dengan Kekakuan Pembuluh Darah
Pada lansia, pembuluh darah yang menua tidak lagi mampu menangani natrium secara efisien. Hal ini membuat kelebihan garam lebih berisiko memicu penyakit kardiovaskular dibandingkan usia muda.
Meski demikian, Yaranov menegaskan bahwa garam bukanlah musuh bagi semua orang. Pada tubuh dengan kondisi normal, natrium tetap menjadi komponen vital. “Garam bukanlah musuh bagi semua orang. Garam tidak menghancurkan umat manusia. Saran kesehatan yang terlalu disederhanakanlah yang melakukannya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Tribun VIP GOR Satria Purwokerto ambruk saat Drift Speed Fest. Sebanyak 75 penonton luka-luka dan dirawat di sejumlah rumah sakit.
Harga Bright Gas resmi turun di DIY dan Pulau Jawa. Bright Gas 12 kg kini Rp220.000 dan 5,5 kg Rp103.000 per tabung mulai Juli 2026.
Profil Perry Warjiyo, ekonom asal UGM yang mengabdi sekitar 42 tahun di Bank Indonesia dan dikenal sebagai penggagas transformasi pembayaran digital melalui QRI
Subaru membentuk divisi khusus mobil sport untuk menghidupkan kembali DNA performa yang selama ini identik dengan WRX STI. Penggemar kini menanti gebrakan besar
Timnas Indonesia menghadapi Kamboja pada laga perdana Grup A Piala AFF 2026. John Herdman dan Nadeo Argawinata optimistis Garuda mampu membuka turnamen dengan k
Meta resmi meluncurkan Facebook Verified, fitur verifikasi akun gratis melalui video selfie. Simak cara mendapatkan lencana verifikasi dan perbedaannya dengan M