Satgas Debottlenecking Terima 142 Aduan Investasi di RI
Satgas debottlenecking pemerintah menerima 142 aduan hambatan usaha hingga Mei 2026 dan menyelesaikan 45 kasus investasi.
Foto ilustrasi penghargaan musik. - Ilustrasi dibuat oleh AI/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Hasil studi terbaru mengungkap bahwa mendengarkan atau memainkan musik di usia lanjut dapat secara substansial mengurangi risiko demensia.
Demikian menurut sebuah studi yang dipimpin Australia terhadap lebih dari 10.800 orang lanjut usia. Penelitian itu menemukan bahwa warga berusia 70 tahun ke atas yang selalu mendengarkan musik memiliki risiko 39 persen lebih rendah untuk mengalami demensia dibandingkan mereka yang tidak pernah, jarang, atau hanya sesekali melakukannya, papar pernyataan yang dirilis pada Kamis (30/10) oleh Monash University Australia, yang memimpin studi tersebut.
Mereka yang rutin mendengarkan musik juga memiliki insidensi gangguan kognitif 17 persen lebih rendah, serta skor yang lebih tinggi dalam kemampuan kognitif secara keseluruhan dan memori episodik, yang digunakan saat mengingat peristiwa sehari-hari, urai penelitian tersebut.
Memainkan alat musik juga berkaitkan dengan 35 persen pengurangan risiko terpapar demensia, ungkap penelitian yang telah dipublikasikan dalam International Journal of Geriatric Psychiatry tersebut.
Para partisipan yang secara rutin mendengarkan dan memainkan alat musik memiliki risiko demensia 33 persen lebih rendah dan tingkat gangguan kognitif 22 persen lebih rendah, papar penelitian tersebut.
Penelitian itu menggunakan data dari studi "ASPirin in Reducing Events in the Elderly" (ASPREE), sebuah proyek penelitian penting yang menyelidiki efek aspirin dosis rendah terhadap hasil kesehatan pada orang dewasa usia lanjut, serta data dari substudi "ASPREE Longitudinal Study of Older Persons."
Emma Jaffa dari Monash University, selaku peneliti utama dalam penelitian tersebut, menyampaikan bahwa temuan menunjukkan "aktivitas musik dapat menjadi strategi yang mudah diakses untuk menjaga kesehatan kognitif pada orang dewasa usia lanjut, kendati hubungan sebab-akibat tidak dapat dipastikan."
Populasi yang menua menjadi kekhawatiran kesehatan global mengingat masa hidup yang lebih panjang menyebabkan peningkatan penyakit terkait usia, seperti demensia dan penurunan fungsi kognitif, ujar tim peneliti tersebut.
"Bukti menunjukkan bahwa penuaan otak tidak hanya ditentukan oleh usia dan faktor genetik, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh pilihan lingkungan dan gaya hidup seseorang," tutur Profesor Joanne Ryan dari Monash University, selaku penulis senior dalam penelitian tersebut.
Dengan belum tersedianya obat untuk demensia, intervensi berbasis gaya hidup, seperti mendengarkan dan/atau memainkan alat musik, dapat mendukung kesehatan kognitif serta berpotensi mencegah atau menunda timbulnya penyakit, ujar Ryan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Satgas debottlenecking pemerintah menerima 142 aduan hambatan usaha hingga Mei 2026 dan menyelesaikan 45 kasus investasi.
Transformasi ekonomi di DIY dan Jawa Tengah dinilai tidak sepenuhnya menggeser akar budaya lokal.
Jelang Iduladha 2026, Dispertapang Kulonprogo perketat pengawasan hewan kurban. PMK nol kasus, namun ancaman penyakit lain tetap diwaspadai.
PN Tipikor Bengkulu vonis bebas 4 terdakwa kasus korupsi lahan tol. Hakim sebut tidak ada unsur melawan hukum.
Simak jadwal lengkap SPMB SMA/SMK DIY 2026, kuota jalur, hingga tahapan pendaftaran. Pastikan tidak terlewat!
AFC menjatuhkan sanksi dua laga dan denda kepada pemain Qatar U-17 usai melakukan kekerasan terhadap pemain Indonesia.