Komitmen Perpustakaan USD Alih Aksara Lontar Kuno
Dari komitmennya mentransliterasi atau alih aksara lontar dan naskah kuno, Perpustakaan Universitas Sanata Dharma (PUSD) meraih Anugerah Kebudayaan DIY 2024.
Ary Zulfikar (kiri) dan Febby Rastanty./Harian Jogja-Sirojul Khafid
Harianjogja.com, JOGJA—Juan Bio One dan Febby Rastanty berperan menjadi aktivis kampus dalam film terbarunya berjudul Sampai Nanti, Hanna! Dalam film yang akan rilis pada 5 Desember 2024 ini, Bio One berperan sebagai Gani, sementara Febby sebagai Hanna.
Executive Producers film Sampai Nanti, Hanna!, Ary Zulfikar, mengatakan karya tersebut bukan sebatas kisah cinta dua remaja, namun juga memiliki pesan dan pelajaran dalam menjalin hubungan keluarga dan pernikahan. Dalam film tersebut, Hanna merupakan aktivis yang vokal dan kritis terhadap kondisi negara.
Namun saat di rumah, dia merasa terkucilkan oleh ibunya, tidak bisa bersuara selantang saat di luar. Sementara Gani merupakan aktivis dan laki-laki yang berani menantang arus di sekitarnya. Namun dia tidak bisa menyatakan cintanya pada Hanna.
“Untuk kepentingan orang atau pihak lain mereka lantang, namun untuk kepentingan sendiri, mereka tidak bisa speak up,” kata Zulfikar saat berkunjung ke Kantor Harian Jogja, Jetis, Kota Jogja, Selasa (3/12/2024). “Kisah ini bisa relate dengan anak muda zaman sekarang, tentang mengambil keputusan dengan apa yang dihadapkan saat itu.”
Sutradara Sampai Nanti, Hanna!, Agung Sentausa, mengatakan bahwa dia tertarik menyutradarai film tersebut lantaran bisa relate dengan kisahnya. Terlebih Agung tumbuh di era 90-an, yang sarat dengan unsur aktivisme. Spektrum coming of age dalam film membuat karya ini semakin menarik. Agung mengatakan setiap masa perkembangan manusia ada masalahnya sendiri-sendiri.
Di masa remaja, belum lengkapnya unsur biologis dan masih bergejolaknya emosi, membuat tantangan tersendiri dalam menghadapi fenomena di dalam maupun luar individu tersebut. “Masa kuliah itu paling tinggi secara tingkat pendidikan, kadang kita merasa pengin ke arah sana, namun orang lain bilang ke sana, kita maunya melawan arus. Di saat yang bersamaan, kita harus move on, bukan masalah benar dan salah, tapi terkait speak up our mind pada diri sendiri dan menghadapi risiko atas pilihan tersebut ke depan,” kata sutradara yang juga menggarap film Garasi (2006) tersebut.
Untuk bisa menikmati dan mendapatkan pesan dari film ini, Bio One mengatakan tidak harus menjadi mahasiswa atau aktivis. Pesan universal yang lebih penting dalam film Sampai Nanti, Hanna! berupa keberanian untuk bersuara.
“Enggak cuma buat negara, tapi juga untuk diri sendiri. Setiap era, problematika negara bisa beda-beda, mungkin lebih tepatnya kita sebagai anak muda kalau mau ambil keputusan jangan terburu-buru, dan bisa menyuarakan apa yang ada dalam diri kita,” katanya.
Di samping pemain dan kru di atas, beberapa orang lain yang terlibat yaitu Dewi Umaya (Produser) dan Swastika Nohara (Penulis Skenario). Ada pula pemain seperti Ibrahim Risyad sebagai Arya, Anjani Dina sebagai Saras, Meriam Bellina sebagai Mami Hanna, serta Jordan Omar sebagai Raka. Film bergenre drama romansa tersebut berdurasi 110 menit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dari komitmennya mentransliterasi atau alih aksara lontar dan naskah kuno, Perpustakaan Universitas Sanata Dharma (PUSD) meraih Anugerah Kebudayaan DIY 2024.
Shakira memenangkan kasus pajak di Spanyol setelah delapan tahun. Pengadilan memerintahkan pengembalian dana Rp1,1 triliun.
Arema FC memburu kemenangan atas PSIM Jogja pada laga terakhir Super League 2025/2026 demi memperbaiki posisi klasemen.
MotoGP Catalunya 2026 diwarnai penalti tekanan ban yang membuat Joan Mir kehilangan podium dan mengubah klasemen sementara.
Pemkot Jogja mulai menyiapkan guru dan menggandeng kampus menyambut kebijakan Bahasa Inggris wajib di SD mulai 2027.
Xiaomi membatalkan proyek ponsel ultra-tipis Xiaomi 17 Air karena tak ingin mengorbankan performa, baterai, dan kualitas pengguna.