Kecelakaan Maut di Boyolali, Motor Disambar Truk LPG di Lampu Merah
Kecelakaan maut di Boyolali, motor tertabrak truk LPG di lampu merah Penggung. Satu penumpang tewas di lokasi.
Ilustrasi sakit asma/crabbscrosssurgery.nhs.uk
Harianjogja.com, JAKARTA–Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menetapkan 5 Mei sebagai Hari Asma Sedunia. Peringatan ini menjadi momentum untuk memperingati jutaan masyarakat yang telah mengidap penyakit asma.
Asma merupakan suatu penyakit berupa peradangan kronik saluran napas yang menyebabkan penyempitan saluran pernapasan (hiperaktivitas bronkus). Penyakit ini mempengaruhi saluran yang membawa udara masuk dan keluar dari paru-paru sehingga menyebabkan gejala mengi, batuk, dan sesak napas di dada.
Penyebab pastinya penyakit asma belum diketahui. Namun, genetik dan lingkungan kemungkinan besar berperan dalam menyebabkan penyakit asma. Faktor-faktor penyebab terjadinya asma meliputi:
1. Kecenderungan untuk mengembangkan alergi, yang disebut atopi (AT-o-pe)
2. Orangtua yang memiliki asma
3. Infeksi saluran pernapasan tertentu selama masa kanak-kanak (ISPA)
4. Kontak dengan beberapa alergen udara atau paparan ke beberapa infeksi virus pada bayi atau anak-anak usia dini ketika sistem kekebalan tubuh berkembang.
5. Terpapar asap rokok saat ibu sedang mengandung
6. Terpapar zat tertentu saat berada di luar ruangan atau sedang bekerja.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada tahun 2020 asma merupakan salah satu jenis penyakit yang paling banyak diidap oleh masyarakat Indonesia, dengan jumlah sebanyak 4,5 persen dari total jumlah penduduk sebanyak 12 juta lebih.
Dilansir melalui laman resmi WHO bahwa penyakit asma mempengaruhi sekitar 262 juta orang pada tahun 2019 dan menyebabkan kematian sebanyak 455.000 orang. Untuk itu WHO berkomitmen untuk meningkatkan diagnosis, pengobatan, dan pemantauan asma untuk mengurangi beban global PTM dan membuat kemajuan menuju cakupan kesehatan universal.
Untuk mengurangi beban penyakit asma dapat dilakukan dengan menggunakan inhaler. Inhaler merupakan alat bantu pernapasan saat terjadinya asma. Menurut WHO Inhaler ini terdapat dua jenis utama yaitu:
1. Bronkodilator (seperti salbutamol) yang membuka saluran udara dan meredakan
2. Steroid (seperti beklometason) yang mengurangi peradangan di saluran udara. Ini dapat mengurangi risiko serangan asma parah dan kematian.
Mempunyai penyakit asma tentu tidak boleh disepelekan karena apabila salah dalam penanganan asma dapat berujung pada kematian. Berikut fakta-fakta yang perlu diketahui mengenai penyakit Asma agar tidak menghambat penanganan yang dilansir melalui Kemenkes:
1. Penderita penyakit asma tidak dapat sembuh
Asma merupakan penyakit kronis yang dipicu oleh kelainan patologis genetik, sifat alergi yang menyebabkan penyakit tersebut akan selalu menetap. Akibat nya penderita penyakit asma tidak dapat terbebas 100% dari penyakit tersebut.
Namun, penyakit ini dapat dikendalikan dengan menggunakan obat pengontrol secara teratur. Jika gejala asma sudah dikontrol penderita asma pun dapat beraktivitas seperti semula.
2. Pengguna inhaler tidak membuat kecanduan
Faktanya pengidap penyakit asma memang memerlukan alat bantu seperti inhaler. Namun, alat bantu tersebut tidak membuat kecanduan, justru pengembagan obat asma dalam bentuk aerosol yang pemakaian menggunakan alat inhaler ini merupakan pengobatan asma yang sangat penting dan gampang saat penyakit asma kambuh tetapi tidak menyebabkan kecanduan.
3. Asma juga menjadi penyakit paru-paru
Gangguan pernapasan pada asma terletak pada alveolus dimana ini merupakan bagian paru. Jadi, penyakit paru bukan hanya TBC saja, namun asma merupakan salah satu penyakit paru. Oleh karena itu, dokter yang menangani penyakit asma juga merupakan dokter spesialis paru dan pernapasan.
4. Mengatur nafasnya dalam posisi duduk
Penderita yang kambuh harus segera mengatur napasnya dalam posisi duduk. Posisi ini membuat rongga paru menjadi lebih terbuka sehingga memudahkan penderita untuk mendapatkan oksigen. Jangan lupa untuk meregangkan bagian-bagian yang mengikat seperti tali bra, ikat pinggang dan baju yang menumpuk.
5. Lebih banyak penderita wanita dibandingkan pria
Penderita asma lebih banyak diidap oleh kaum wanita. Tidak hanya penyakit asma tetapi wanita kemungkinan lebih besar terkena penyakit lainnya. Hal tersebut membuat peneliti berspekulasi bahwa adanya hubungan hormon pria dan wanita. Mereka percaya hormon ovarium meningkatkan peradangan saluran napas pada asma semetara testosteron menurunkannya.
6. Asma dan Eksim adalah sepupu
Setiap orang yang mengalami asma akan mengalami eksim. Hal ini karena adanya hubungan antara kedua kondisi tersebut yang kemungkinan besar akan menimbulkan kondisi lainnya. Menurut American Academy of Asthma, Allergy & Immunology mengatakan setengah dari semua orang dengan eksim sedang hingga berat akan menderita asma. Hal tersebut karena terjadinya peradangan pada bagian yang sama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Kecelakaan maut di Boyolali, motor tertabrak truk LPG di lampu merah Penggung. Satu penumpang tewas di lokasi.
iPhone 17 pimpin pasar global Q1 2026, Apple kuasai 3 besar, Samsung dan Xiaomi bertahan di segmen entry level.
Polres Kulonprogo petakan 30 geng pelajar untuk cegah kejahatan jalanan. Simak langkah preventif Pemkab dan kepolisian di sini.
FIB Bronze Jogja 2026 jadi ajang penting pembinaan padel Indonesia menuju Kualifikasi Piala Dunia dan Asian Games.
BNI ini salah satu bank nasional dengan jaringan internasional yang cukup besar. Kami menjadi penghubung antara dunia internasional dengan Indonesia, baik inbou
Jogja Run D-City 2026 meriahkan Jogja. Tiket peserta disalurkan untuk beasiswa, hadiah hingga Rp25 juta dan hiburan spektakuler.