Asbanda Dorong BPD Optimalkan SIPD-RI dan Siskeudes-Link
Asbanda dan Bank Papua menggelar Seminar Nasional di Aula Kantor Gubernur Papua, Jayapura, Papua, Kamis (24/4/2025).
Proses syuting film YK 48, Senin (6/9/2021)./Istimewa-Pehagengsi
Harianjogja.com, JOGJA—Industri perfilman DIY terus berkembang dari tahun ke tahun. Retasan perjalanan itulah yang menjadi topik dari Pehagengsi, sebuah rumah produksi film asal Jogja untuk merekamnya dalam bentuk film documenter berjudul YK 48.
Mulai awal September lalu, produksi film itu sudah dimulai dengan mengambil lokasi syuting di kawasan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Bantul.
Sutradara YK 48, Kiki Pea mengatakan film tersebut mencoba mengeksplorasi sejarah film Indonesia di DIY. Sejak hadirnya Kine Drama Institut pada 1947, lahirnya berbagai festival film di DIY yang diselenggarakan berbagai pihak, hingga munculnya kecenderungan para pembuat film yang menjadikan Jogjakarta sebagai "studio terbuka".
“Artinya, proses syuting film dilakukan dengan memanfaatkan karakteristik ruang daerah ini,” kata Kiki melalui rilis, Jumat (17/9/2021).
Akan tetapi, lanjut Kiki, setelah kemeriahan dan euforia festival film itu, tindak lanjutnya pun dipertanyakan. “Pertanyaannya kemudian, setelah kemeriahan ini apa yang tersisa? Adakah regenerasi? Adakah jaminan film DIY masih akan meriah hingga 10 tahun mendatang? Hingga pertanyaan besarnya adalah sebagai produk kebudayaan, apa sih ‘Film Jogja’ itu?” terang Kiki.
Produser YK 48 Rifqi Mansur Maya menjelaskan DIY adalah salah satu titik tolak sejarah perfilman di Indonesia. “Melalui YK 48 diharapkan kita bisa saling menghargai dan menghidupi sejarah kota kita masing-masing,” ucap dia.
Agar memiliki informasi dan data yang kuat, kata Rifqi, sejak Mei 2020 timnya pun melakukan riset untuk keperluan film tersebut.
"Yang menjadi PR dalam riset film ini ialah menemukan metode pembacaan yang paling pas terhadap perkembangan film Jogja dari sudut pandang sineas generasi mutakhir. Gap pengetahuan tentang sejarah film di generasi muda menjadi tantangan tersendiri yang coba disiasati dengan menghadirkan film YK 48,” kata salah satu tim riset, Manshur Zikri.
Manshur berharap YK 48 dapat memberikan tawaran baru pemaparan dan pemaknaan sejarah film di DIY. Selain itu juga sebagai salah satu cara agar film DIY dapat juga melebur dan jadi primadona di masyarakat.
“Seperti halnya musik Jogja yang hingga saat ini sangat dekat, bahkan membentuk cara bersikap masyarakat.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Asbanda dan Bank Papua menggelar Seminar Nasional di Aula Kantor Gubernur Papua, Jayapura, Papua, Kamis (24/4/2025).
Honda mengurangi ambisi kendaraan listrik dan kini fokus besar pada mobil hybrid setelah mengalami kerugian Rp47 triliun akibat proyek EV.
LinkedIn memangkas sekitar 5 persen karyawan global di tengah tren PHK industri teknologi 2026 meski pendapatan perusahaan masih tumbuh positif.
Massimiliano Allegri dikabarkan hengkang dari AC Milan setelah konflik panas dengan Zlatan Ibrahimovic dan performa Rossoneri menurun.
MacBook Neo resmi dibuka pre-order di Indonesia mulai Rp10 jutaan. Laptop Apple ini memakai chip A18 Pro dan hadir tanpa kipas pendingin.
Manchester City punya rekor impresif di Wembley jelang final Piala FA 2025/2026 melawan Chelsea. Guardiola catat 15 kemenangan dari 23 laga.