PNBP Visa Naik, Imigrasi Kantongi Rp2,8 Triliun pada Semester I
PNBP visa Ditjen Imigrasi naik 6,42% menjadi Rp2,81 triliun pada semester I 2026 di tengah penguatan layanan dan pengawasan keimigrasian.
Virus corona
Harianjogja.com, JAKARTA - Virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 dapat dengan mudah ditularkan kepada orang lain oleh orang yang belum menunjukkan tanda-tanda infeksi. Kenyataan itu menjadi salah satu ciri Covid-19 yang membuatnya begitu sulit dikendalikan.
Pembawa virus mungkin merasa sehat dan menjalankan kegiatan sehari-hari mereka membawa virus ke tempat kerja, ke rumah anggota keluarga, atau ke pertemuan umum.
Oleh karena itu, bagian penting dari upaya global untuk membendung penyebaran pandemi adalah melakukan tes yang dapat dengan cepat mengidentifikasi infeksi pada orang yang belum bergejala.
Untuk tracing itu, para peneliti Caltech telah mengembangkan jenis tes multipleks baru (tes yang menggabungkan berbagai jenis data) dengan sensor berbiaya rendah yang memungkinkan diagnosis infeksi Covid-19 di rumah melalui analisis cepat volume kecil air liur atau darah, yang bisa dilakukan sendiri, dalam waktu kurang dari 10 menit.
Penelitian dilakukan di lab Wei Gao, dengan dipimpin asisten profesor di departemen teknik medis Andrew dan Peggy Cherng.
Sebelumnya, Gao dan timnya telah mengembangkan sensor nirkabel yang dapat memantau kondisi seperti asam urat, serta tingkat stres, melalui deteksi kadar senyawa tertentu yang sangat rendah dalam darah, air liur, atau keringat.
Sensor Gao terbuat dari graphene, karbon berbentuk lembaran. Lembaran plastik yang diukir dengan laser menghasilkan struktur graphene 3-D dengan pori-pori kecil. Pori-pori tersebut menciptakan sejumlah besar area permukaan pada sensor, yang membuatnya cukup sensitif untuk mendeteksi, dengan akurasi tinggi, senyawa yang hanya ada dalam jumlah yang sangat kecil. Pada sensor ini, struktur graphene digabungkan dengan antibodi, molekul sistem kekebalan yang sensitif terhadap protein tertentu, seperti yang ada di permukaan virus Covid-19.
Versi sensor sebelumnya telah diresapi dengan antibodi untuk hormon kortisol, yang berhubungan dengan stres, dan asam urat, yang pada konsentrasi tinggi menyebabkan asam urat. Sensor versi baru, yang dinamai Gao SARS-CoV-2 RapidPlex, mengandung antibodi dan protein yang memungkinkannya mendeteksi keberadaan virus itu sendiri; antibodi yang dibuat oleh tubuh untuk melawan virus; dan penanda kimiawi peradangan, yang menunjukkan tingkat keparahan infeksi COVID-19.
"Ini adalah satu-satunya platform telemedicine yang pernah saya lihat yang dapat memberikan informasi tentang infeksi dalam tiga jenis data dengan satu sensor," kata Gao.
"Hanya dalam beberapa menit, kami dapat memeriksa level ini secara bersamaan, jadi kami mendapatkan gambaran lengkap tentang infeksi, termasuk infeksi dini, kekebalan, dan tingkat keparahan."
Teknologi pengujian Covid-19 yang mapan biasanya membutuhkan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari untuk memberikan hasil. Teknologi tersebut juga membutuhkan peralatan yang mahal dan rumit, sedangkan sistem Gao sederhana dan kompak.
Sejauh ini, perangkat tersebut hanya diuji di laboratorium dengan sejumlah kecil sampel darah dan air liur yang diperoleh untuk tujuan penelitian medis dari individu yang dinyatakan positif atau negatif Covid-19 . Meskipun hasil awal menunjukkan bahwa sensor tersebut sangat akurat, tes skala yang lebih besar dengan pasien di dunia nyata daripada sampel laboratorium harus dilakukan, Gao memperingatkan, untuk menentukan keakuratannya secara pasti.
Dengan studi percontohan sekarang selesai, Gao selanjutnya berencana untuk menguji berapa lama sensor bertahan dengan penggunaan biasa, dan mulai mengujinya dengan pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Setelah pengujian di rumah sakit, dia ingin mempelajari kesesuaian tes untuk penggunaan di rumah. Setelah pengujian, perangkat perlu menerima persetujuan peraturan sebelum tersedia untuk digunakan secara luas di rumah.
"Tujuan akhir kami sebenarnya adalah penggunaan di rumah," katanya. "Pada tahun berikutnya, kami berencana mengirimkannya ke orang berisiko tinggi untuk pengujian di rumah. Dan di masa mendatang, platform ini dapat dimodifikasi untuk jenis pengujian penyakit menular lainnya di rumah."
Makalah yang menjelaskan penelitian, berjudul, "SARS-CoV-2 RapidPlex: Platform Telemedicine Multiplexed Berbasis Graphene untuk Diagnosis dan Pemantauan Covid-19 Cepat dan Berbiaya Rendah", telah dipublikasikan secara online dan akan muncul di edisi Desember jurnal Matter.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
PNBP visa Ditjen Imigrasi naik 6,42% menjadi Rp2,81 triliun pada semester I 2026 di tengah penguatan layanan dan pengawasan keimigrasian.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Kamis 6 Agustus 2026 lengkap dari Stasiun Tugu Yogyakarta dan Kutoarjo. Simak jam keberangkatan terbaru.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 6 Agustus 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Simak jam keberangkatan dan tarif terbaru Rp8.000.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 6 Agustus 2026 lengkap dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur. Tarif Commuter Line tetap Rp8.000.
Siswa belum terdaftar PIP 2026 bisa mengajukan via sekolah. Simak syarat, dokumen, dan besaran bantuan SD Rp450 ribu hingga SMA Rp1,8 juta.
Sisa roket Falcon 9 milik SpaceX menghantam Bulan dekat Kawah Einstein. NASA dan ilmuwan dunia kini memburu kawah baru yang terbentuk untuk kepentingan peneliti