Kebakaran KMP Putri Yasmin, 172 Orang Selamat, 1 Meninggal
KMP Putri Yasmin terbakar di Selat Lombok. Tim SAR mengevakuasi 173 orang, terdiri atas 172 korban selamat dan 1 meninggal dunia.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA - Ada sejumlah orangtua yang meragukan vaksinasi untuk anak. Hal ini disebabkan keraguan karena banyaknya informasi yang beredar tentang vaksinasi.
Padahal, vaksinasi penting untuk diberikan pada si kecil agar daya tahan tubuhnya terbentuk, sehingga terhindar dari berbagai penyakit di masa yang akan datang.
Nah, jika kamu termasuk orangtua yang masih sering termakan isu-isu tentang vaksinasi, simak yuk beberapa mitos dan fakta terkait vaksinasi, yang dijelaskan oleh dr. Caessar Pronocitro, Sp. A, M. Sc, Dokter Spesialis Anak dari Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya.
Baca juga: Makan Kuaci Memang Melelahkan, tapi Ternyata Manfaatnya Luar Biasa
Berikut daftarnya seperti yang suara.com kutip dari siaran pers \'Webinar Pentingnya Vaksinasi Untuk Anak\'.
1. Vaksinasi dapat menyebabkan autisme
Hoax mengenai kaitan vaksin MMR dengan autisme bermula dari penelitian seorang dokter bedah bernama Wakefield dengan hanya 18 sampel di tahun 1998 dan sudah dibongkar sejak 2011.
Berbagai penelitian lain yang lebih sahih dan melibatkan sampel jauh lebih besar membuktikan tidak ada kaitan vaksin MMR dengan autisme.
Baca juga: Jika Anda Mengalami 4 Tanda Ini, Artinya Anda Stres karena Pekerjaan
Kemungkinan, usia pemberian vaksin MMR (sekitar 1 tahun) bertepatan dengan usia di mana gejala-gejala autisme mulai tampak, sehingga seolah-olah berkaitan.
2. Sebagian vaksinasi tidak wajib sehingga tidak penting diberikan
Masing-masing vaksin dapat mencegah penyakit yang berbeda. Sebagian vaksin memang sudah disubsidi oleh pemerintah, sehingga lebih dikenal, seperti Hepatitis B, BCG, polio, DPT kombo, dan campak.
Namun, bukan berarti vaksin lain tidak penting. Vaksin PCV misalnya, mencegah peradangan paru-paru (pneumonia) dan peradangan selaput otak (meningitis). Pneumonia adalah penyebab kematian balita nomor satu di Indonesia.
Atau vaksin rotavirus yang dapar mencegah diare akibat rotavirus. Diare adalah penyebab kematian balita nomor dua di Indonesia.
3. Anak yang batuk, pilek, atau minum obat tidak boleh vaksinasi
Kondisi batuk pilek ringan tanpa demam bukanlah kontraindikasi untuk vaksinasi. Dokter akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan anak tidak berada dalam kondisi penyakit berat.
Sebagian besar obat-obatan, termasuk antibiotik, tidak mempengaruhi potensi vaksin. Namun, bila anak mendapatkan pengobatan yang bersifat menekan imunitas untuk jangka waktu lama, maka dokter akan menunda pemberian vaksin.
4. Vaksin tidak dapat diberikan apabila sudah terlambat dari jadwal
Vaksin tetap dapat disusulkan apabila terlambat, karena anak belum memiliki kekebalan dari vaksin tersebut. Pemberian vaksin yang sifatnya serial tidak perlu mengulang dari awal apabila ada yang terlambat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
KMP Putri Yasmin terbakar di Selat Lombok. Tim SAR mengevakuasi 173 orang, terdiri atas 172 korban selamat dan 1 meninggal dunia.
iOS 27 beta 5 mengungkap enam iPhone baru yang belum diumumkan Apple, termasuk iPhone Ultra yang disebut sebagai ponsel lipat pertama.
Anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani, mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperkuat branding agar produk tidak hanya viral
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian kompak turun pada Kamis 13 Agustus 2026. Simak daftar harga jual dan buyback terbaru dari 0,5 gram hingga 1.00
Polresta Jogja menegaskan bahwa seluruh layanan SIM Keliling hanya melayani perpanjangan SIM A dan SIM C yang masih berlaku.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk Minim Sampah, Berkarya di Kebun, Bahagia di Dapur