Anggaran Paskibraka Jateng Dipangkas, Kuota Tetap 45 Orang
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Berbagai jenis kelinci dari Paguyuban Pembudidaya Kelinci Bantul (P2KB), dalam event Bantul Juoss, Sabtu (22/2/2020). /Harian Jogja-Siti Halida Fitriati
Harianjogja.com, BANTUL -- Memelihara kelinci tak semudah teori. Terkadang teori jauh berbeda dari praktiknya. Hal ini pun dibenarkan oleh Samijo, selaku penghobi kelinci yang tergabung dalam Paguyuban Pembudidaya Kelinci Bantul (P2KB).
Menurut Samijo pada acara Bantul Juoss di Pasar Seni dan Wisata Gabusan Bantul, Sabtu, (22/2/2020), memelihara kelinci nggak mudah, kadang teorinya beda dari praktiknya.
"Seperti kita harus membiasakannya jika berada di tempat baru, nanti dia stres, kemudian sakit. Misal itu sudah ada lalat nya berarti dia sakit," kata Samijo sambil menunjuk kelinci yang tengah dikerubungi lalat.
Berangkat dari hal tersebut, P2KB dalam event Bantul Juoss mulai tanggal 22-23 Februari 2020, mencoba untuk melakukan sosialisasi. Edukasi dilakukan mulai dari tahap pengenalan jenis-jenis kelinci, baik jenis kelinci hias ataupun konsumsi hingga spesies-nya.
"Yang utama itu kita ke arah edukasi, pengenalan bebagai jenis kelinci, terus kelinci itu garis besarnya ada dua. Hias sama pedaging. Untuk konsumsi sebetulnya semuanya bisa dikonsumsi. Tapi kita punya standar sendiri," kata ketua P2KB, Agung Tisnayuana.
Adapun standar yang ditetapkan untuk kelinci layak konsumsi yaitu kelinci dewasa, berumur empat bulan dengan bobot 2,5 kilogram ke atas, dan berjenis kelamin laki-laki.
"Kalau konsumsi, kelinci dewasa di atas 2.5 kilogram. Sebenarnya semua kelinci dapat dikonsumsi tapi kan P2KB ada standarnya untuk kelinci yang bisa disembelih, itu yang jantan dan umur 4 bulanan," ujar Agung.
Kelinci konsumsi dan hias dapat dibedakan dari jenisnya. Kelinci hias biasanya berjenis Anggora, Himalaya, Dutch, English Lop, French Lop, Netherland Dwarf, Holland Lop, Fuzzy Lop, dan kelinci hias lokal.
Sedangkan kelinci pedaging yang layak untuk dikonsumsi, rata-rata ukurannya besar dengan jenis Flemish Giant, Australia New Zealand, Rambon, Rex, dan kelinci lokal Jawa.
"Kelinci medium ke bawah itu hias, nah yang ukurannya besar itu, itu kelinci konsumsi," kata Agung sambil menunjuk kelinci berukuran besar dengan pergerakan yang sagat lincah, yang baru saja dikeluarkan dari kandangnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Baznas Kulonprogo telah menyalurkan 40 tangki air bersih ke 11 titik kekeringan. Sebanyak 200 tangki disiapkan selama musim kemarau.
Bareskrim mengungkap MV King Sun tiga kali menyelundupkan ketamin. Pengiriman ke Indonesia sebanyak 1.298 kg berhasil digagalkan.
KPK belum menahan Yuddy Renaldi dalam kasus dugaan korupsi iklan Bank BJB karena mempertimbangkan kondisi kesehatannya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 14 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Karhutla Gunung Bromo di kawasan TNBTS berhasil dipadamkan. Luas area terbakar mencapai 1.120 hektare di empat kabupaten.