PSSI Pastikan Lapangan Sidolig Siap Digunakan untuk FIFA ASEAN Cup 2026
PSSI mempercepat pemulihan Lapangan Sidolig Bandung untuk latihan tim FIFA ASEAN Cup 2026. Stadion Si Jalak Harupat dinyatakan siap.
Dokter sedang melakukan perawatan pada pasien virus corona. /Reuters
Harianjogja.com, AS - Selain wabah virus corona baru 2019-nCoV yang sudah meluas ke banyak negara, ada pula epidemi virus lain yang juga menyerang seluruh dunia, yaitu virus flu. Lantas apa perbedaan keduanya?
Sejauh ini lebih dari 31.161 dilaporkan positif terinfeksi virus corona Wuhan atau 2019-nCoV dan lebih dari 600 kasus kematian. Tapi sebenarnya angka itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan jumlah orang yang sedang flu atau influenza.
Menurut Centers for Disease Control (CDC) di Amerika Serikat, flu telah menyerang sekitar 19 juta orang, 180.000 dirawat di rumah sakit dan 10.000 meninggal dunia.
Berikut adalah perbandingan kedua virus ini, dikutip dari Bisinis.com yang melansir Live Science:
1. Gejala dan efek
Flu musiman seperti virus influenza A dan influenza B dan 2019-nCoV adalah virus menular yang sama-sama menyebabkan gangguan pernapasan.
Menurut CDC gejala-gejala flu yang umum adalah demam, batuk, sakit tenggorokan, sakit otot, sakit kepala, pilek atau hidung tersumbat, kelelahan dan bahkan hingga muntah atau diare. Gejala flu sering muncul tiba-tiba.
Kebanyakan orang yang terkena flu akan sembuh dalam waktu kurang dari dua minggu, tapi pada beberapa orang, flu juga bisa menyebabkan komplikasi, termasuk pneumonia. Sedangkan virus corona memiliki gejala seperti demam, batuk dan sesak napas.
Menurut World Health Organization (WHO) kedua virus ini menyerang pernapasan dan memiliki gejala yang hampir sama. Hal ini membuat sulit untuk membedakan kedua virus tersebut hanya berdasarkan gejalanya saja.
2. Angka kematian
Menurut data CDC, sejauh ini sekitar 0,05% orang yang terkena virus flu telah meninggal dunia di Amerika Serikat.
Tingkat kematian untuk 2019-nCoV masih belum jelas, tetapi tampaknya lebih tinggi daripada orang yang terkena flu. Sampai saat ini, angka kematian untuk 2019-nCoV telah mencapai 2% dari ribuan orang yang positif terinfeksi.
3. Risiko terinfeksi
CDC memperkirakan bahwa, rata-rata, sekitar 8% populasi Amerika Serikat terkena flu.
Saat ini hanya ada 11 kasus 2019-nCoV di AS. Namun, virus yang baru muncul seperti 2019-nCoV menjadi masalah kesehatan masyarakat. Beberapa orang yang memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi virus corona adalah dokter, perawat, atau seseorang yang bekerja di rumah sakit.
4. Pencegahan
Tidak seperti flu yang dapat dicegah dengan vaksin agar tidak terinfeksi, saat ini belum ada vaksin yang bisa mencegah dari terinfeksinya virus corona.
Tetapi CDC merekomendasikan beberapa hal untuk mencegah penyebaran virus corona dan maupun flu musiman. Antara lain, cuci tangan sesering mungkin dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik; hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang tidak dicuci; hindari kontak dekat dengan orang yang sakit, dan tetap berada di rumah saat sakit, dan bersihkan benda dan permukaan yang sering disentuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Detik.com
PSSI mempercepat pemulihan Lapangan Sidolig Bandung untuk latihan tim FIFA ASEAN Cup 2026. Stadion Si Jalak Harupat dinyatakan siap.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 25 September 2026 dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Harga mobil baru di AS mencapai sekitar US$50.000. Survei Cox Automotive menunjukkan 69% konsumen Gen Z mempertimbangkan merek China.
Bentley Torcal resmi debut sebagai mobil listrik pertama Bentley. SUV ini punya tenaga 888 PS, baterai 113,2 kWh, dan jarak tempuh hingga 600 km.
Pemkab Kulonprogo menguji pembayaran retribusi berbasis MPOS di wisata, pasar, dan parkir. Sistem ditargetkan siap diterapkan lebih luas pada 2027.
Mematikan mesin saat mengisi BBM di SPBU merupakan langkah keselamatan untuk mengurangi sumber penyalaan. Simak alasan dan aturan lainnya.