Wayang Kulit Meriahkan Tukar Budaya Magelang-Karanganyar
Tukar budaya Magelang–Karanganyar meriah dengan wayang kulit dan peluncuran Gerakan Sanggar Seni Sekolah di Secang.
Tim Soreng Magelang saat pentas di Parade Seni dan Budaya Kota Mungkid Tahun 2019, Senin (19/8/2019). /Ist-Dok Humas
Harianjogja.com, MAGELANG-- Tari Soreng dari Kabupaten Magelang bakal kembali menorehkan prestasi. Setelah sebelumnya sukses tampil di Istana Negara untuk memperingati HUT RI ke-74, kini mereka akan tampil untuk memecahkan rekor Muri pada Hari Sumpah Pemuda.
Penampilan akbar ini akan diselenggarakan di sepanjang jalan Soekarno Hatta, Kota Mungkid, pada tanggal 28 Oktober 2019 mendatang.
Sementara, Ketua Harian Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Kabupaten Magelang, Mul Budi Santoso, menjelaskan pihaknya menargetkan kegiatan ini akan diikuti 10.000 peserta. "Antusiasme masyarakat Kabupaten Magelang luar biasa, mereka pasti ingin ikut berpartisipasi," katanya, Rabu (16/10/2019).
Peserta berasal dari berbagai pelosok daerah ini. Peserta tidak hanya dari kalangan seniman, namun juga siswa sekolah, mahasiswa dan masyarakat umum. Mereka berlatih secara terpisah di daerah masing-masing namun dalam gerakan yang sama. Panitia membagi peserta per desa dan kecamatan.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Plt Sekretaris Disdikbud Kabupaten Magelang, Slamet Ahmad Husein, mengatakan bahwa, kegiatan tersebut sesuai arahan Bupati Magelang, yakni dalam rangka melestarikan kebudayaan khas peninggalan nenek moyang yang telah berkembang di antara masyarakat, khususnya di lereng Gunung Merbabu dan Gunung Andong.
"Tentunya dalam rangka menegaskan kembali cita-cita dan pergerakan kemerdekaan Indonesia melalui ikrar Sumpah Pemuda," kata, Ahmad Husein.
Untuk menindaklanjuti tentang arahan Bupati tersebut, pihaknya pun telah berkoordinasi dengan pihak Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai permohonan pendaftaran pencatatan rekor penari soreng terbanyak.
Untuk diketahui, Tari Soreng sendiri merupakan kesenian asli masyarakat Jawa yang merupakan pengejawantahan babad atau cerita rakyat yang diadopsi dari kisah Haryo Penangsang (digambarkan sebagai seorang yang gagah berani yang memiliki banyak prajurit).
Biasanya, pentas kesenian tari soreng tersebut sering dipentaskan dalam adat atau hajatan besar. Gerakkannya pun diambil dari tarian keprajuritan yang dilakukan secara massal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tukar budaya Magelang–Karanganyar meriah dengan wayang kulit dan peluncuran Gerakan Sanggar Seni Sekolah di Secang.
ISI Jogja menonaktifkan seorang dosen usai Satgas PPKPT menuntaskan pemeriksaan laporan dugaan kekerasan seksual terhadap mahasiswa.
Hanung Bramantyo mengungkap latar belakang 7 Setan Desa dalam film Lobang Buaya yang disebut masih relevan dengan kondisi sosial Indonesia.
BMKG mencatat 98 ZOM yang biasanya basah sepanjang tahun kini mengalami kemarau akibat El Nino sangat kuat sepanjang 2026.
Bantul mencatat Hari Tanpa Hujan terpanjang di Indonesia, mencapai 131 hari akibat El Nino sangat kuat. BMKG memproyeksikan hujan bertahap.
DPR resmi mengesahkan RUU Pengaturan Reforma Agraria menjadi UU dalam Rapat Paripurna DPR RI, Selasa (22/9/2026).