Tragis! Bocah SD di Ngawi Tewas Tenggelam Saat Menyelamatkan Temannya
Bocah SD 11 tahun di Ngawi tewas tenggelam saat menolong temannya di kolam bekas galian C sedalam 8 meter.
Pramoedya Ananta Toer/Okezone-Ilustrasi Feri Usmawan
Harianjogja.com, JAKARTA- Sudah lebih dari 50 karya dari Pramoedya Ananta Toer yang diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Atas karya-karyanya yang luar biasa, Pram tercatat enam kali dinominasikan di Nobel Sastra. Meski tak sekalipun ia berhasil membawa pulang pialanya.
Ketidakberhasilan Pram dalam meraih Nobel Sastra, kabarnya lantaran pria yang wafat pada 30 April 2006 lalu ini bergabung dengan organisasi Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat). Lekra merupakan organisasi yang berada di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Belum bisanya pria kelahiran Blora tersebut meraih Nobel Sastra menimbulkan dugaan dari beberapa sumber. Selain diisukan bahwa penerjemahan karyanya ke bahasa asing buruk, muncul spekulasi yang mengatakan bahwa ada campur tangan tokoh pemerintahan Indonesia dalam penjurian penghargaan tersebut.
Alasan lain yang kabarnya membuat Pram tak mendapatkan satupun Nobel Sastra lantaran banyak sastrawan yang tidak senang dirinya bisa mendapatkan penghargaan.
Meski sempat dikucilkan di negara sendiri, bahkan pernah dipenjara di pulau Buru dan dilarang keras untuk menulis, saat berada di luar negeri, sosok Pram bisa dikatakan cukup dihormati karena karya-karyanya.
Dari begitu banyak karya Pram yang dikenal di luar negeri, Tetralogi Pulau Buru bisa dikatakan sebagai primadonanya. Tetralogi yang terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca ini ditulis oleh Pram saat ia dipenjara selama 11 tahun di Pulau Buru.
Berlatar belakang perkembangan nasional Indonesia, kehidupan sang tokoh utama dalam novel, yakni Minke, diadaptasi dari pengalaman hidup seorang jurnalis pribumi Indonesia pertama, bernama R.M. Tirto Adi Soerjo. Awalnya, Pram mengisahkan secara lisan kepada tahanan, hingga ia berhasil mendapatkan sebuah mesin tik.
Sayangnya, usai ia bebas dari pulau Buru dan dinyatakan tak bersalah, Kejaksaan Agung melarang peredaran novel karangannya. Pihak Kejaksaan Agung menganggap karya Pram mengandung pesan Marxisme-Leninisme.
Akan tetapi, ia tetap berhasil mengedarkan Tetralogi Pulau Buru di luar negeri, berkat bantuan seorang pastor dari Jerman dan seorang warga negara Australia, yang menyelamatkan karyanya sebelum dibakar oleh para oknum.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone.com
Bocah SD 11 tahun di Ngawi tewas tenggelam saat menolong temannya di kolam bekas galian C sedalam 8 meter.
Trump minta China dan Taiwan menahan diri di tengah ketegangan. AS belum pastikan kirim senjata ke Taipei dan soroti chip Taiwan.
Okupansi hotel Jogja naik hingga 70% saat long weekend. PHRI DIY ungkap tren booking mendadak dan imbau wisatawan waspada penipuan.
Serabi 2026 bantu lebih dari 1.800 UMKM perempuan memahami bisnis digital, strategi harga, dan pengembangan usaha berbasis data.
Prabowo minta TNI-Polri bersih dari praktik ilegal, tegaskan larangan backing judi, narkoba, dan penyelundupan.
Perdagangan hewan kurban Bantul naik jelang Iduladha 2026, omzet pedagang diprediksi tumbuh hingga 40 persen.