Matangkan Persiapan Muktamar ke-34, PBNU Perkuat Konsolidasi
PBNU terus mematangkan persiapan Muktamar ke-34, Munas dan Konbes dijadwalkan Juli-Agustus 2026.
Para pemain di film Dua Garis/Akbar Evandio
Harianjogja.com, JAKARTA -- Dwi Sasono mengaku sudah membayangkan menjadi seorang ayah dari anak yang usianya menginjak remaja, sejak menerima sinopsis film Dua Garis Biru, Dirinya mengakui terbawa emosi saat proses reading film yang dibintanginya.
“Saya merasakan dari Dua Garis Biru mengirimkan naskahnya adalah perasaan yang cukup sesak, karena saya memiliki anak perempuan, sehingga saya merasa ini adalah sebuah pelajaran yang saya perlu dapatkan dari film tersebut,” ungkapnya di Press Conference Dua Garis Biru, di Epicentrum XXI, Rasuna Said, Kamis, (27/6/2019).
Memiliki posisi sebagai ayah membuat Dwi membayangkan bahwa setiap adegan dan momen yang divisualisasikan di film adalah hal yang menurutnya agar tidak sampai terjadi kepada anaknya dan seluruh perempuan.
“Saya adalah seorang bapak, sehingga ketika berada dalam salah satu adegan saya merasakan puncak emosi yang tidak dapat dijelaskan. Hal itu karena saya membayangkan hal tersebut terjadi pada anak saya [Widuri], dimana pada momentum tersebut saya merasa pecah dan menangis serta merasakan sesak,” ujarnya.
Dwi mengakui bahwa adegan di usaha kesehatan sekolah (UKS) adalah adegan dengan puncak yang paling menguras emosi, selain karena proses yang digarap adalah dengan konsep one shot, yaitu pengambilan gambar secara sekali untuk satu take.
“Adegan di UKS adalah bagian yang paling menguras emosi, dimulai dari proses reading, serta Gina, juga memiliki konsep one shot. Serta, untuk diketahui ketika beradegan dalam momen tersebut saya merasa ingin memukul Angga, karena penghayatan peran,”
Dwi mengungkap bahwa Gina .S. Noer sebagai sutradara, memberikan dirinya sebuah konsep yang sangat menarik dengan dua keluarga yang berbeda dan pemilihan pemeran yang tepat, sehingga menurutnya proses penggarapan film berjalan dengan sangat baik.
“Pendidikan Seks di usia dini tidak dapat untuk disembunyikan, karena hal tersebut adalah salah satu bekal untuk menyelamatkan anak-anak kita. Saya berharap film ini dapat menjadi cermin dan visualisasi dalam mengedukasi untuk menjadi bekal untuk para keluarga dan masyarakat,” harapnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
PBNU terus mematangkan persiapan Muktamar ke-34, Munas dan Konbes dijadwalkan Juli-Agustus 2026.
Meutya Hafid mengungkap hampir 200 ribu anak di Indonesia terpapar judi online, termasuk 80 ribu anak di bawah usia 10 tahun.
Mentan Amran melepas ekspor pupuk urea ke Australia senilai Rp7 triliun untuk memperkuat industri pupuk nasional dan pasar global.
Gereja Katedral Jakarta menggelar empat sesi misa Kenaikan Yesus Kristus, Polda Metro Jaya amankan 860 tempat ibadah.
ILRC mencatat kasus femisida seksual di Indonesia meningkat pada 2025. Korban didominasi anak perempuan hingga perempuan muda.
Aktivitas parkir bus wisata di Eks Menara Kopi Kotabaru Jogja melonjak saat libur panjang, bisa tembus lebih dari 35 bus per hari.