Setahun Hilang, Calon Mahasiswi Undip Belum Juga Ditemukan
Setahun hilang, Mozza Axillia Gunarsa belum ditemukan. Polisi masih menyelidiki, sementara keluarga terus berharap gadis calon mahasiswi Undip itu pulang.
Ilustrasi tidur siang
Harianjogja.com, JAKARTA – Sudah menjadi rahasia umum bahwa kurang tidur dapat berdampak buruk bagi kemampuan mental seseorang. Kurang tidur juga diketahui dapat menyebabkan seseorang berakhir dengan kondisi Alzheimer serta masalah kognitif lainnya di kemudian hari. Namun, mereka yang tidur berlebihan juga dapat mengalami penurunan kognitif yang sama dengan mereka yang kurang tidur.
Temuan ini diungkapkan dalam studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Washington University School of Medicine.
Adapun penelitian ini dilakukan untuk memahami berapa banyak waktu tidur yang dikaitkan dengan penurunan kognitif dari waktu ke waktu, dan mempelajari 100 orang lansia, berusia pertengahan hingga akhir 70 an selama antara empat hingga lima tahun.
Melansir sea.mashable.com, Senin (8/11/2021) peserta diberikan berbagai tes kognitif dan neuropsikologis yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi tanda-tanda penurunan kognitif. Skor individu pada tes kemudian digabungkan menjadi skor tunggal yang disebut skor Preclinical Alzheimer Cognitive Composite (PACC), di mana skor yang lebih tinggi menandakan fungsi kognitif yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Dikombinasikan dengan tes ini, para peneliti juga memantau jumlah tidur peserta menggunakan perangkat ensefalografi elektroda tunggal (EEG) yang ditanam di dahi mereka. Aktivitas pengukuran tidur ini dilakukan sekali pada setiap peserta selama antara empat hingga enam malam setelah mereka menyelesaikan tes kognitif tahunan mereka selama tiga tahun.
Setelah mempertimbangkan semua faktor, termasuk usia, genetika dan keberadaan protein yang terkait dengan perkembangan demensia, mereka menyimpulkan bahwa tidur kurang dari 4,5 jam dan lebih dari 6,5 jam per malam memiliki hubungan dengan penurunan mental dan kognitif dari waktu ke waktu.
Mungkin, kesimpulan dari penelitian ini sedikit membingungkan, mengingat anjuran umum yang seringkali diberikan untuk waktu tidur adalah 8 hingga 9 jam per malam untuk orang dewasa.
Dengan penelitian yang menunjukkan bahwa tidur lebih dari 6,5 jam per malam dapat dikaitkan dengan penurunan kognitif, langkah selanjutnya adalah memastikan seberapa dekat hubungan ini dalam hal sebab dan akibat.
Bisa jadi dalam penelitian ini serta penelitian serupa lainnya yang dilakukan sebelumnya bahwa individu yang tidur lebih lama dari 6,5 jam per malam mungkin sudah memiliki kondisi penurunan kognitif yang sudah ada sebelumnya yang tidak ditunjukkan selama tes.
Kemudian ada juga faktor lain seperti tingkat aktivitas fisik, situasi keuangan, hubungan sosial, dan lain-lain yang dapat menyebabkan penurunan kognitif pada tingkat individu.
Namun terlepas dari hasilnya, ada baiknya untuk mengawasi pola tidur Anda untuk memastikan bahwa Anda mendapatkan istirahat yang cukup dan berkualitas di malam hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Setahun hilang, Mozza Axillia Gunarsa belum ditemukan. Polisi masih menyelidiki, sementara keluarga terus berharap gadis calon mahasiswi Undip itu pulang.
Penerimaan PBB-P2 Bantul mencapai Rp34,8 miliar hingga Juni 2026. Pemkab menyiapkan insentif bagi kalurahan yang melunasi pajak tepat waktu.
Pemotor di Turi, Sleman, tertimpa pohon melinjo setelah pohon kelapa roboh. Korban masih menjalani perawatan di RSUD Sleman.
Presiden Prabowo meresmikan pembangunan Blok Masela senilai Rp376,02 triliun yang ditargetkan mulai berproduksi pada 2029 hingga 2030.
Pemkab Sleman mengevaluasi studi kelayakan proyek KPBU lampu jalan. Konstruksi ditargetkan dimulai pada 2027 untuk pemerataan penerangan.
Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul berencana menyambungkan potensi wisata di wilayahnya dengan sektor industri agar kian maksimal.