Laboartorium Obah #3 dan Cara Menjadi Manusia di Tengah Riuhnya Dunia
Alih-alih mandek sepeninggal Sang Maestro Jemek Supardi empat tahun silam, pantomim di Jogja terus dipertunjukkan, dengan segala kreativitas dan inovasinya.
Glenn Freddly (JIBI/Harian Jogja/Arief Junianto)
Gleen Freddly akan membuat sekuel kedua film Cahaya Dari Timur. Rencana film tersebut berkisah tentang perjalanan pejuang lingkungan, Mama Aleta.
Harianjogja.com, SLEMAN-Keseriusan penyanyi berdarah Maluku Glenn Fredly dalam mengangkat kembali nama tanah kelahirannya tak sekadar isapan jempol. Sukses memproduseri film perdananya berjudul Cahaya Dari Timur: Beta Maluku yang rilis akhir tahun lalu, tahun 2015 ini, Glenn tengah menyiapkan film keduanya yang merupakan sekuel dari film pertamanya tersebut.
Di film pertamanya Glenn mengangkat kisah seorang pria bernama Sani Tawainella yang ingin menyelamatkan anak-anak dari konflik agama yang terjadi di Ambon sedekade lalu. Untuk kembali menyatukan Maluku, ia menjadi pelatih tim sepakbola Maluku U-15 dan membawa timnya itu berhasil menjuarai kompetisi U-15 di Jakarta.
Kini, di film keduanya, penyanyi yang terkenal dengan lagu-lagu melankolisnya itu akan kembali mengangkat kisah tokoh inspiratif lainnya. Adalah Aleta Baun, seorang pejuang lingkungan asal Desa Molo, Nusa Tenggara Timur yang akrab disapa Mama Aleta akan menjadi tema cerita dalam film keduanya tersebut.
Saat ditemui usai menggelar jumpa pers acara konsernya bersama Rio Febrian, Tompi, Gilbert Pohan dan Yura bertajuk All About Music Rendezvous-Exclusive-Intimate Live in Concert 2015, Glenn menjelaskan untuk menggarap film tersebut, dirinya tak main-main. Bahkan, sebagai produser ia memberikan waktu selama setahun lamanya bagi sutradara Angga Dwimas Sasongko untuk melakukan riset mendalam mengenai tokoh perempuan inspiratif tersebut.
"Saya pribadi sudah bertemu beliau [Mama Aleta]. Mas Angga [Angga Dwimas Sasongko] sudah melakukan riset sejak akhir tahun lalu. Mungkin riset akan terus berjalan hingga pertengahan tahun ini," ujarnya.
Dengan begitu, ia menjadwalkan film tersebut akan rilis pada 2016 mendatang. Ia berharap dari film tersebut, bisa memberikan sesuatuyang berharga pada saudara-saudaranya di Indonesia Timur.
Beberapa tahun terakhir, Glenn memang tercatat aktif sebagai pegiat kampanye Voice From The East (VOTE). Oleh karena itulah melalui film tersebut, dirinya menghindari kampanye yang bersifat advokasi. Dengan begitu, ia lebih memilih untuk membuat produk yang lebih kultural, lebih menarik dan sejalan dengan pemerintahan baru sekarang.
"Sebagai contoh adalah film dan diskusi," ucapnya, Rabu (14/1/2015) di Break Cafe, Sleman.
Ia menganggap produk seni pop seharusnya tidak bekerja dalam ranah hiburan dan showbiz belaka. Menurut dia, produk seni pop tetap harus mengandung pesan makna yang berpihak pada kesejahteraan sosial dan masyarakat banyak.
"Saya rasa pop adalah ladang untuk menyampaikan pesan itu," tegasnya lagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Alih-alih mandek sepeninggal Sang Maestro Jemek Supardi empat tahun silam, pantomim di Jogja terus dipertunjukkan, dengan segala kreativitas dan inovasinya.
Tragedi kapal PMI ilegal di Malaysia tewaskan 7 WNI. DPR desak bongkar mafia pengiriman tenaga kerja ilegal hingga ke akar.
DPR minta pemerintah lindungi industri rokok dari tekanan regulasi dan rokok ilegal. Sektor ini serap jutaan tenaga kerja dan sumbang besar ke negara.
Tempe Pondoh Sleman resmi dilindungi hukum. Pernah ada upaya klaim dari luar, Pemkab kini bergerak cepat amankan warisan budaya.
Katedral Jakarta gelar 4 misa Kenaikan Yesus 2026, 2.300 umat hadir. Polisi amankan 860 gereja selama libur panjang.
Xi Jinping dan Donald Trump sepakat bangun hubungan baru China-AS, tapi isu Taiwan jadi ancaman serius konflik global.