HP Tipis Pesaing iPhone Air, dari Samsung hingga Infinix
Cari HP tipis selain iPhone Air? Simak perbandingan Samsung Galaxy S25 Edge, Infinix Hot 60 Pro Plus, dan Tecno Spark Slim.
Foto ilustrasi anak-anak bermain ponsel, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA—Memberikan ponsel kepada anak agar tenang atau menikmati video memang bisa menjadi solusi praktis bagi orang tua. Namun, jika kebiasaan itu terlalu sering dilakukan, waktu anak untuk bermain aktif, tidur, membaca, dan berinteraksi dengan keluarga berisiko berkurang.
Karena itu, orang tua perlu memahami batas screen time atau waktu yang dihabiskan anak di depan layar, baik televisi, ponsel, tablet, komputer, maupun konsol permainan. Durasi penggunaan perangkat digital sebaiknya disesuaikan dengan usia anak dan tidak menggeser kebutuhan dasar tumbuh kembangnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan panduan mengenai waktu penggunaan layar, aktivitas fisik, dan tidur bagi anak di bawah usia lima tahun. Panduan tersebut menekankan pentingnya keseimbangan aktivitas selama 24 jam, bukan hanya menghitung berapa lama anak menggunakan gawai.
Rekomendasi WHO membedakan batas penggunaan layar berdasarkan kelompok usia. Anak berusia satu tahun tidak dianjurkan menjalani aktivitas sedentari di depan layar, sedangkan anak berusia dua tahun dan kelompok usia tiga hingga empat tahun sebaiknya tidak menggunakan layar lebih dari satu jam sehari. Durasi yang lebih singkat lebih dianjurkan.
Berikut panduan screen time, aktivitas fisik, dan tidur yang dapat menjadi acuan orang tua.
Bayi di bawah satu tahun tidak dianjurkan menghabiskan waktu di depan layar. Pada fase ini, bayi membutuhkan kesempatan bergerak, mengeksplorasi lingkungan secara aman, serta berinteraksi langsung dengan orang tua atau pengasuh.
Untuk aktivitas fisik, bayi perlu bergerak beberapa kali sehari melalui berbagai kegiatan yang sesuai dengan kemampuannya. Bayi yang belum dapat bergerak secara mandiri dianjurkan memperoleh setidaknya 30 menit aktivitas tengkurap (tummy time) yang dibagi sepanjang hari ketika terjaga.
Kebutuhan tidur bayi berusia 0–3 bulan adalah 14–17 jam sehari, sedangkan bayi berusia 4–11 bulan membutuhkan 12–16 jam, termasuk tidur siang.
Batas screen time pada kelompok usia ini perlu dibedakan berdasarkan usia. WHO tidak menganjurkan waktu layar sedentari untuk anak berusia satu tahun, sementara anak berusia dua tahun sebaiknya dibatasi maksimal satu jam sehari. Lebih sedikit lebih baik.
Anak usia satu hingga dua tahun juga dianjurkan melakukan aktivitas fisik setidaknya 180 menit atau tiga jam sepanjang hari. Kegiatan tersebut dapat berupa berjalan, bermain bola, menari, atau permainan lain yang membuat anak bergerak sesuai kemampuan dan kondisi keamanannya.
Adapun kebutuhan tidur anak usia satu hingga dua tahun adalah 11–14 jam sehari, termasuk tidur siang. Orang tua dapat membantu memenuhi kebutuhan tersebut dengan menjaga rutinitas tidur dan bangun yang teratur.
Anak usia tiga hingga empat tahun sebaiknya menggunakan layar maksimal satu jam sehari. WHO menganjurkan durasi yang lebih singkat, disertai kegiatan bermain dan interaksi langsung dengan orang tua maupun teman sebaya.
Pada kelompok usia ini, anak membutuhkan setidaknya 180 menit aktivitas fisik setiap hari. Dari jumlah tersebut, minimal 60 menit sebaiknya berupa aktivitas dengan intensitas sedang hingga berat, seperti berlari, melompat, atau bermain aktif sesuai kemampuan anak.
Kebutuhan tidur anak usia tiga hingga empat tahun adalah 10–13 jam sehari, termasuk tidur siang jika diperlukan. Orang tua perlu memastikan penggunaan gawai tidak mengurangi waktu istirahat maupun kesempatan anak bergerak.
Panduan WHO tersebut dapat dibaca melalui pedoman aktivitas fisik, perilaku sedentari, dan tidur untuk anak di bawah lima tahun.
Selain durasi, orang tua perlu memperhatikan jenis konten dan cara anak mengaksesnya. Anak yang masih kecil membutuhkan bantuan orang dewasa untuk memahami informasi yang dilihat melalui layar dan menghubungkannya dengan pengalaman sehari-hari.
Prof. Dr. dr. Ahmad Suryawan, Sp.A(K), pakar tumbuh kembang anak dari RSUD Dr. Soetomo dan Universitas Airlangga, dalam materi sumber naskah ini mengingatkan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan dapat berdampak pada perkembangan anak. Ia juga menjelaskan keterbatasan anak usia dini dalam memahami simbol dan memindahkan pengetahuan dari layar ke pengalaman nyata.
Pernyataan tersebut perlu dipahami dalam konteks perkembangan anak secara keseluruhan. Penggunaan layar bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan, tetapi orang tua perlu memastikan perangkat digital tidak menggantikan interaksi langsung, permainan, dan kegiatan belajar yang sesuai dengan usia anak.
Jika anak menggunakan perangkat digital, orang tua dapat memilih konten berkualitas dan mendampinginya. Mengajak anak berbicara mengenai tayangan, menyebut nama benda yang terlihat, atau menghubungkan cerita dengan kejadian sehari-hari dapat membuat pengalaman tersebut lebih interaktif daripada menonton sendirian.
Orang tua juga perlu menetapkan waktu bebas layar, terutama ketika makan bersama, menjelang tidur, dan saat anak berada di kamar tidur. Kebiasaan tersebut membantu menjaga waktu makan, istirahat, serta kesempatan berkomunikasi dengan keluarga.
Gawai sebaiknya tidak selalu dijadikan cara utama untuk menghentikan tangisan atau mengalihkan perhatian anak ketika sedang kesal. Anak tetap membutuhkan bantuan orang tua untuk mengenali emosi, merasa tenang, dan belajar menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
Sebagai alternatif, orang tua bisa menawarkan kegiatan yang sesuai dengan usia anak, seperti membaca buku cerita, menggambar, menyusun balok, bernyanyi, bermain di luar rumah, atau melakukan permainan yang melibatkan gerakan tubuh.
Untuk anak yang sudah terbiasa menggunakan gawai dalam waktu lama, perubahan aturan dapat dilakukan secara bertahap. Tentukan durasi yang lebih terukur, sampaikan aturan dengan bahasa sederhana, dan siapkan kegiatan pengganti agar anak tidak hanya diminta berhenti tanpa memperoleh alternatif.
Aturan screen time akan lebih mudah diterapkan jika seluruh anggota keluarga menjalankannya secara konsisten. Orang tua dapat memulai dengan mengurangi penggunaan ponsel ketika makan, berbincang, atau bermain bersama anak.
Batas penggunaan layar juga sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan anak dan situasi keluarga, tanpa mengabaikan rekomendasi berdasarkan usia. Jika orang tua memiliki kekhawatiran mengenai perkembangan, pola tidur, atau perilaku anak, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan langkah yang sesuai.
Pada akhirnya, tujuan membatasi screen time bukan sekadar menjauhkan anak dari teknologi. Hal yang lebih penting adalah memastikan anak tetap memiliki cukup waktu untuk bergerak, tidur, bermain, belajar, dan membangun hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cari HP tipis selain iPhone Air? Simak perbandingan Samsung Galaxy S25 Edge, Infinix Hot 60 Pro Plus, dan Tecno Spark Slim.
Mahasiswa dari HMI, UGM, dan UII menggelar aksi di DPRD DIY, menuntut evaluasi MBG, KDMP, penanganan karhutla, hingga pelanggaran HAM.
Sebanyak 34 gambaran muncul saat Cupu Panjala dibuka di Gunungkidul. Simak rincian gambar dan pesan lurah serta Bupati Gunungkidul.
Disdikpora DIY berkoordinasi dengan sekolah dan meminta orang tua mengawasi pelajar untuk mengantisipasi keterlibatan dalam aksi demonstrasi.
Lebih dari 1.000 mahasiswa UII menggelar aksi damai membawa tujuh tuntutan terkait pemerintahan Prabowo-Gibran. Kampus beri dispensasi kuliah.
Berapa lama anak boleh menatap layar? Simak batas screen time, durasi tidur, dan aktivitas fisik anak usia dini menurut WHO.