Kopi Jumbo 1,5 Liter Jadi Tren di Korea Selatan, Diklaim Lebih Hemat

Jumali
Jumali Sabtu, 17 Oktober 2026 23:27 WIB
Kopi Jumbo 1,5 Liter Jadi Tren di Korea Selatan, Diklaim Lebih Hemat

Kopi susu - Foto ilustrasi dibuat oleh AI/StockCake

Harianjogja.com, JOGJA— Membeli kopi dalam ukuran jumbo mulai menjadi tren di Korea Selatan. Alih-alih menggunakan gelas biasa, sejumlah gerai menawarkan kopi dalam wadah menyerupai ember dengan kapasitas mencapai 1,5 liter. Selain mencuri perhatian di media sosial, minuman berukuran besar ini juga dipasarkan sebagai pilihan yang dinilai lebih ekonomis.

Tren yang dikenal sebagai bucket coffee tersebut semakin terlihat di kawasan Seongsu-dong, Seoul, yang populer di kalangan anak muda. Konsumen tampak membawa wadah berisi kopi dan es berukuran besar saat beraktivitas di kawasan tersebut.

Salah satu gerai yang ikut meramaikan tren ini adalah Latte King. Pada awal Oktober 2026, gerai tersebut meluncurkan menu Bucket Coffee dengan wadah plastik berkapasitas 1,5 liter. Tutupnya dilengkapi lubang untuk sedotan sehingga minuman dapat dikonsumsi langsung dari wadahnya.

Mengutip The Chosun, Sabtu (17/10/2026), menu tersebut berhasil menjadi produk terlaris kedua di kawasan Seongsu dalam waktu kurang dari satu bulan setelah diluncurkan.

CEO Blue Bean Company, Kim Tae-jun, menilai ukuran yang tidak biasa menjadi salah satu faktor yang menarik perhatian konsumen. Perusahaan pun berencana memperluas penjualan menu tersebut ke seluruh cabangnya.

“Ukuran yang besar menciptakan daya tarik visual, yang secara efektif menarik pelanggan. Karena efeknya telah terbukti, kami berencana untuk memperluas penjualan ke semua cabang,” ujarnya.

Dunkin' Ikut Hadirkan Kopi Jumbo

Tren kopi dalam wadah berukuran besar juga diikuti Dunkin'. Gerai donat tersebut baru-baru ini memperkenalkan menu Giant Bucket dengan kapasitas 1,4 liter, sekitar empat kali ukuran minuman yang biasa ditawarkan.

Fenomena ini disebut bermula di Amerika Serikat. Sejumlah gerai di Massachusetts awalnya menawarkan kopi berukuran besar sebagai produk percobaan untuk menarik perhatian pencinta kuliner. Setelah mendapatkan perhatian dan menjadi viral, produk tersebut kemudian berkembang menjadi menu resmi.

Tren kopi jumbo selanjutnya merambah Korea Selatan, termasuk dalam bentuk es Americano yang disajikan dalam wadah menyerupai ember.

Media sosial seperti TikTok turut membantu meningkatkan popularitasnya. Bentuk kemasan yang tidak lazim membuat kopi jumbo mudah menarik perhatian dalam foto maupun video. Cara konsumen membawa dan meminum kopi langsung dari wadah besar itu juga menjadi bagian dari daya tarik kontennya.

Kopi Jumbo Dianggap Lebih Hemat di Tengah Inflasi

Di balik tampilannya yang mencolok, tren kopi jumbo juga berkaitan dengan pertimbangan pengeluaran sehari-hari. Di tengah inflasi tinggi dan perlambatan ekonomi, konsumen mencari cara untuk mendapatkan minuman dalam jumlah lebih banyak tanpa harus membayar berkali-kali lipat.

Harga kopi jumbo umumnya disebut hanya dua hingga tiga kali harga kopi biasa, meskipun volumenya bisa mencapai empat hingga lima kali lebih besar. Perbandingan tersebut membuat sebagian konsumen menilai kopi jumbo menawarkan nilai lebih baik untuk uang yang dikeluarkan.

Bagi pekerja kantoran yang terbiasa membeli kopi setiap hari, pilihan berukuran besar dianggap praktis untuk menemani aktivitas selama bekerja. Seorang pekerja kantoran berusia 39 tahun mengaku membeli kopi jumbo terasa lebih hemat untuk dikonsumsi selama bekerja seharian.

Meski demikian, penghematan yang dirasakan konsumen bergantung pada harga setiap menu, jumlah kopi yang benar-benar dikonsumsi, serta apakah minuman tersebut dapat dihabiskan sebelum kualitasnya berubah. Ukuran besar tidak otomatis berarti pengeluaran lebih rendah jika konsumen justru membeli kopi melebihi kebutuhan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online