Cara Parenting ala 90-an yang Bisa Diterapkan Orang Tua Masa Kini

Jumali
Jumali Sabtu, 17 Oktober 2026 22:07 WIB
Cara Parenting ala 90-an yang Bisa Diterapkan Orang Tua Masa Kini

Foto ilustrasi pengasuhan anak dibuat oleh Artificial Intelligence ChatGpt.

Harianjogja.com, JOGJA—Orang tua yang tumbuh pada era 1990-an bisa menghadirkan kembali sebagian pengalaman masa kecil mereka melalui pola pengasuhan anak di rumah. Di tengah kehidupan yang semakin lekat dengan gawai dan hiburan digital, sejumlah kebiasaan lama dapat menjadi inspirasi untuk mempererat hubungan keluarga sekaligus mendorong anak lebih mandiri.

Masa kecil pada 1990-an berlangsung ketika akses internet dan perangkat digital belum semudah sekarang. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain secara langsung, berinteraksi dengan keluarga, atau mencari kegiatan sendiri ketika tidak ada hiburan.

Kondisi tersebut berbeda dengan kehidupan anak masa kini yang dapat mengakses gim, video, dan media sosial melalui perangkat pribadi. Karena itu, orang tua dapat mengambil sisi positif dari kebiasaan era 90-an tanpa harus menolak perkembangan teknologi.

Berikut lima cara menerapkan gaya parenting ala 1990-an yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan keluarga masa kini.

1. Batasi Waktu Anak Menggunakan Gawai

Ponsel pintar dan perangkat digital memudahkan anak mengakses informasi sekaligus menyediakan berbagai hiburan. Namun, tanpa pendampingan, anak bisa menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bermain gim atau menonton video.

Pada era 1990-an, pilihan hiburan digital relatif terbatas, misalnya televisi dan konsol gim. Anak-anak juga memiliki lebih banyak kesempatan untuk melakukan kegiatan lain di luar layar.

Orang tua masa kini dapat meniru kebiasaan tersebut dengan membuat aturan waktu penggunaan gawai yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak. Waktu tanpa layar bisa dialihkan untuk membaca buku, bermain di luar, menggambar, atau bercengkerama bersama keluarga.

Penggunaan media sosial juga perlu disesuaikan dengan usia dan ketentuan masing-masing platform. Jika anak belum membutuhkan ponsel pribadi, orang tua dapat menunda pemberiannya sambil mempertimbangkan kebutuhan komunikasi, keamanan, dan kesiapan anak.

2. Jadikan Keluarga sebagai Teman Bermain

Sebelum hiburan digital menjadi bagian besar dari keseharian, keluarga dan teman sebaya sering menjadi bagian penting dari kegiatan bermain anak. Kebiasaan ini dapat dihidupkan kembali melalui aktivitas sederhana yang melibatkan anggota keluarga.

Orang tua bisa mengajak anak bermain permainan papan atau board game, menyusun Lego, menggambar, memasak bersama, maupun melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan minat mereka.

Aktivitas tersebut tidak harus membutuhkan biaya besar. Mengobrol, bercerita tentang kegiatan sehari-hari, atau bermain permainan sederhana juga dapat menjadi kesempatan untuk membangun kedekatan.

Bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu anak, kegiatan bersama dapat membantu mereka belajar bekerja sama, bergiliran, dan menyelesaikan perbedaan pendapat. Orang tua pun bisa lebih memahami minat serta karakter setiap anak melalui interaksi langsung.

3. Bangun Ritual Keluarga yang Konsisten

Kebiasaan berkumpul bersama dapat menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga. Pada era 1990-an, salah satu bentuk hiburan keluarga adalah menonton film bersama, termasuk setelah meminjam kaset atau CD dari tempat penyewaan.

Meski kebiasaan menyewa film tidak lagi umum, gagasan untuk menyediakan waktu khusus bersama keluarga tetap relevan. Orang tua dapat menjadwalkan malam menonton film, makan malam bersama, bermain permainan papan, atau berlibur pada waktu tertentu.

Hal terpenting bukan jenis kegiatannya, melainkan kesempatan bagi anggota keluarga untuk berinteraksi secara rutin. Waktu bersama juga dapat disepakati sebagai momen untuk mengurangi penggunaan ponsel agar setiap orang lebih fokus satu sama lain.

Mengutip Capsule NZ, ritual keluarga yang dilakukan secara konsisten dapat membantu anak merasakan lingkungan yang aman dan dapat diprediksi. Rutinitas semacam ini memberi anak kesempatan untuk mengetahui kapan mereka bisa menghabiskan waktu bersama orang tua.

4. Beri Anak Kesempatan Merasa Bosan

Ketika pilihan hiburan tidak sebanyak sekarang, anak-anak sering harus mencari kegiatan sendiri. Pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi orang tua untuk tidak selalu mengisi setiap waktu luang anak dengan aktivitas terjadwal.

Rasa bosan tidak selalu perlu segera dihilangkan dengan memberikan ponsel atau menyiapkan hiburan baru. Sesekali, anak dapat diberi kesempatan menentukan sendiri kegiatan yang ingin dilakukan.

Dalam situasi tersebut, anak mungkin mulai berimajinasi, membuat permainan, menggambar, atau mencoba hal baru. Mereka juga berkesempatan belajar menghadapi masalah sederhana dan mencari solusi tanpa selalu menunggu arahan orang dewasa.

Meski demikian, waktu luang tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Orang tua dapat menyediakan lingkungan yang aman serta pilihan aktivitas, tanpa harus terus-menerus mengatur setiap kegiatan mereka.

5. Beri Anak Kebebasan dengan Batas yang Jelas

Bermain di luar rumah merupakan salah satu pengalaman masa kecil yang dapat dikenang dari era 1990-an. Kegiatan tersebut memberi anak kesempatan bergerak, menjelajahi lingkungan, berinteraksi dengan teman, dan belajar mengambil keputusan sederhana.

Orang tua masa kini dapat memberikan kesempatan serupa dengan mempertimbangkan usia, kematangan, kondisi lingkungan, serta risiko keselamatan. Anak bisa mulai diberi ruang untuk bermain di halaman, taman, atau area yang aman dengan pengawasan sesuai kebutuhannya.

Kebebasan tersebut sebaiknya disertai aturan yang mudah dipahami. Orang tua perlu menetapkan batas wilayah bermain, waktu pulang, cara menghubungi keluarga, dan tindakan yang harus dilakukan jika muncul situasi tidak aman.

Dengan cara ini, anak dapat belajar bertanggung jawab tanpa kehilangan perlindungan yang diperlukan. Orang tua juga tetap bisa memantau keselamatan anak sembari memberikan ruang untuk tumbuh dan mengembangkan kemandirian.

Terapkan Nilai Positif Parenting Era 90-an

Menghadirkan kembali suasana pengasuhan era 1990-an bukan berarti orang tua harus meninggalkan teknologi atau menerapkan seluruh kebiasaan masa lalu. Keluarga dapat memilih hal-hal yang masih relevan, seperti membangun interaksi langsung, menyediakan waktu bermain, memberi ruang untuk berkreasi, dan melatih tanggung jawab.

Penerapannya pun tidak harus dilakukan sekaligus. Orang tua dapat memulainya dengan satu kebiasaan sederhana, misalnya makan malam tanpa gawai atau menyediakan waktu bermain bersama setiap akhir pekan.

Dengan penyesuaian terhadap kebutuhan anak dan kondisi keluarga, nilai positif dari masa kecil era 90-an dapat menjadi bagian dari pola pengasuhan masa kini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online