Kemenkes Temukan 1,6 Juta Orang Diduga Alami Gangguan Penglihatan

Newswire
Newswire Kamis, 15 Oktober 2026 14:47 WIB
Kemenkes Temukan 1,6 Juta Orang Diduga Alami Gangguan Penglihatan

Ilustrasi kesehatan mata anak. Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan sekitar 1,6 juta orang dicurigai mengalami gangguan penglihatan dari 34 juta orang yang telah menjalani pemeriksaan mata melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pada kelompok anak sekolah, sekitar 3% ditemukan memiliki kelainan mata.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyampaikan data tersebut dalam peringatan Hari Kesehatan Mata Sedunia 2026 di Jakarta, Kamis. Menurutnya, persoalan kesehatan mata perlu mendapat perhatian karena gangguan penglihatan juga menjadi masalah di tingkat global.

“Pada populasi, sekitar 4 persen dan yang mengalami kelainan gangguan mata akibat katarak, spesifik katarak, itu sekitar 3 persen juga,” kata Dante.

Ia menyebut secara global terdapat sekitar 1,1 miliar penduduk yang mengalami kelainan mata. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu direspons melalui tata kelola dan layanan kesehatan mata yang lebih baik.

“Waktu kita bangun pertama kali, yang kita lakukan adalah membuka mata. Mata adalah hal pertama yang bekerja untuk kita setiap pagi. Ia yang memulai hari kita, yang menemani kita belajar, menemani kita bekerja, dan melakukan aktivitas sehari-hari,” katanya.

Kemenkes perkuat skrining dan akses operasi katarak

Dante mengatakan Kemenkes berkomitmen meningkatkan status kesehatan mata masyarakat melalui sejumlah langkah strategis. Salah satunya dengan memperkuat skrining kesehatan mata dalam program CKG, baik di sekolah, fasilitas kesehatan, maupun komunitas.

Langkah berikutnya ialah menyelesaikan persoalan akses operasi katarak yang dibiayai oleh BPJS Kesehatan. Dante mengakui pembahasan mengenai persoalan tersebut telah beberapa kali dilakukan bersama BPJS, tetapi belum menghasilkan penyelesaian.

“Yang kedua, yang terus terang saya minta maaf pada Perdami, ini adalah menyelesaikan akses operasi katarak yang dibiayai oleh BPJS. Sudah beberapa kali kita rapat dengan BPJS, tapi belum selesai soal ini,” kata Dante.

Ia menegaskan pemerintah berkomitmen segera menangani persoalan tersebut. Menurutnya, perluasan layanan operasi katarak diperlukan karena terdapat daerah yang kekurangan kuota operasi, sementara daerah lain memiliki kuota berlebih.

Selain skrining dan akses operasi, Kemenkes berencana mendorong pemerataan dokter spesialis mata. Dante menilai tenaga spesialis mata masih terkonsentrasi di kota-kota besar sehingga distribusi layanan perlu diperbaiki.

“Sedangkan yang ketiga pemerataan dokter spesialis mata. Saya tahu dokter spesialis mata itu banyak, tapi masih terkonsentrasi di kota besar. Kita akan lakukan pemerataan dokter spesialis mata,” ujarnya.

Edukasi kesehatan mata dengan metode 20-20-20

Selain memperluas layanan medis, Kemenkes terus menggalakkan edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan mata. Salah satu cara yang disampaikan Dante ialah menerapkan metode 20-20-20 saat mata digunakan untuk bekerja atau melihat layar.

“Jadi, 20 menit mata bekerja, 20 detik mata istirahat, dan 20 kaki mata melihat jarak untuk melakukan relaksasi mata,” ujarnya.

Dante juga menyampaikan pentingnya kolaborasi dengan berbagai mitra untuk memperluas akses layanan kesehatan mata di Indonesia. Salah satu mitra tersebut ialah The Fred Hollows Foundation.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sampai muncul keluhan sebelum memperhatikan kesehatan mata.

“Jangan tunggu sampai mata kita terasa berat, kabur, atau menyakitkan. Jagalah organ pertama yang bekerja untuk kita setiap hari ini dengan sebaik-baiknya,” katanya.

The Fred Hollows Foundation sasar lima provinsi

Chief of Programs & Partnerships The Fred Hollows Foundation, Amanda Huang, mengatakan organisasinya mengembangkan layanan kesehatan mata berbasis komunitas secara komprehensif. Program tersebut ditujukan untuk mendukung kesehatan mata di lima provinsi selama tiga tahun.

Amanda menjelaskan pihaknya bekerja sama dengan pemerintah di tingkat nasional dan provinsi untuk mendukung pelatihan tenaga kesehatan serta pelaksanaan skrining mata di sekolah dan tempat kerja. Upaya tersebut diharapkan mendorong masyarakat menjaga penglihatan sejak dini.

Program itu memiliki sejumlah target, antara lain:

Melatih lebih dari 2.000 tenaga kesehatan dan guru.
Memberikan skrining mata kepada 60.000 siswa dan pekerja.
Mendukung lebih dari 6.500 operasi katarak.
Mendistribusikan lebih dari 10.000 kacamata.
Membangun 13 pusat kesehatan mata dan memperkuat layanan di 21 pusat kesehatan mata.
Menjalankan skrining dan rujukan retinopati diabetik di 12 puskesmas di Bali.

Amanda mengatakan kerja sama tersebut dirancang sebagai kemitraan dengan pemerintah, didukung keahlian teknis, dan berorientasi pada bukti untuk memperluas dampak layanan kesehatan mata.

“Kemitraan ini adalah bagaimana kita ingin bekerja di Indonesia. Bukan sebagai organisasi yang mengadakan aktivitas sebagai orang luar, tapi sebagai mitra terpercaya yang didukung pemerintah, keahlian teknis, guna menunjukkan bukti yang membuka peluang bagi dampak lebih luas di negara ini,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online