Harga Minyak Dunia Melonjak, Rupiah Dibuka Melemah Rp17.918 per Dolar AS
Rupiah melemah 18 poin ke Rp17.918 per dolar AS pada Rabu (14/10/2026), tertekan kenaikan harga minyak dunia dan menanti data inflasi AS.
Ilustrasi bisul pada gusi./JIBI
Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat prevalensi karies gigi pada anak usia 5-9 tahun mencapai 84,8% berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Data tersebut menjadi perhatian dalam upaya memperkuat kebiasaan pemeriksaan dini, tindak lanjut masalah gigi, serta perawatan kesehatan gigi dan mulut sejak usia anak.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan persoalan kesehatan gigi dan mulut masih menjadi tantangan di Indonesia. SKI 2023 juga mencatat 56,9% penduduk berusia tiga tahun ke atas mengalami masalah gigi dan mulut.
Namun, hanya 11,2% masyarakat yang mengalami masalah tersebut berobat kepada tenaga medis.
"Hal ini menunjukkan bahwa kita perlu bergerak lebih kuat dan dari cuman sekedar mengobati ketika masalah sudah terjadi," katanya di Jakarta, Rabu.
Andi mengingatkan kesehatan gigi dan mulut berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan anak. Kondisi gigi yang sehat membantu anak makan dengan baik, belajar dengan nyaman, beraktivitas, tumbuh dan berkembang, serta membangun rasa percaya diri.
"Tantangan yang kita hadapi masih besar, yakni sekitar 3,5 miliar orang di dunia mengalami penyakit gigi dan mulut," ujarnya.
HKGN 2026 Tekankan Pemeriksaan dan Perawatan Gigi
Dalam peringatan Hari Kesehatan Gigi Nasional (HKGN) 2026, Kemenkes mengangkat tema "Gigi Kuat, Senyum Sehat, Indonesia Hebat". Adapun subtema yang diusung adalah "Periksa Tindaklanjuti Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut".
Melalui tema tersebut, masyarakat diajak membiasakan diri memeriksakan kondisi gigi dan mulut, menindaklanjuti masalah yang ditemukan, serta menjaga kesehatan melalui kebiasaan sehari-hari.
Andi mengatakan perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak. Menurutnya, kebiasaan menjaga kesehatan yang dibangun sejak dini dapat menjadi fondasi bagi kesehatan mereka pada masa mendatang.
"Kita memberikan perhatian khusus kepada anak-anak karena kebiasaan sehat yang dibentuk sejak dini, dapat menjadi fondasi bagi kesehatan pada masa depan," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor, terutama bidang pendidikan dan kesehatan, untuk membangun kebiasaan merawat gigi secara berkelanjutan. Sekolah menjadi salah satu lingkungan penting karena anak-anak menghabiskan banyak waktu di tempat tersebut.
Andi mengatakan kegiatan edukasi kesehatan gigi di sekolah perlu dilakukan secara konsisten. Anak-anak perlu memperoleh pengetahuan dari guru dan tenaga kesehatan, mempraktikkan kebiasaan sehat bersama-sama, serta mendapatkan dukungan orang tua di rumah.
Selain itu, pemeriksaan dan tindak lanjut melalui puskesmas perlu dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing anak.
"Kita perlu memastikan bahwa kegiatan di sekolah memiliki kesinambungan, anak mendapatkan pengetahuan dari guru dan tenaga kesehatan, mempraktekkan kebiasaan sehat secara bersama-sama, mendapatkan penguatan dari orang tua di rumah, serta memperoleh pemeriksaan dan tindak lanjut melalui puskesmas sesuai kebutuhannya," kata Andi.
Anak Diimbau Rutin Menyikat Gigi
Andi mengingatkan anak-anak agar menjaga kesehatan gigi melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari. Upaya tersebut meliputi membersihkan gigi pada waktu yang tepat dan mengurangi konsumsi makanan serta minuman yang terlalu manis.
Anak-anak juga diminta tidak ragu menyampaikan keluhan kepada orang tua, guru, atau tenaga kesehatan ketika mengalami sakit gigi maupun menemukan gigi berlubang.
Andi menegaskan bahwa pemeriksaan ke dokter gigi tidak perlu ditakuti. Ia berharap anak-anak membiasakan diri menyikat gigi bukan semata-mata karena diminta orang lain, melainkan karena memahami pentingnya menjaga kesehatan diri.
"Jangan takut pergi ke dokter gigi, jadikan sikat gigi bukan hanya karena disuruh, tetapi karena kita ingin menjaga senyum kita sendiri yang lebih percaya diri," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Rupiah melemah 18 poin ke Rp17.918 per dolar AS pada Rabu (14/10/2026), tertekan kenaikan harga minyak dunia dan menanti data inflasi AS.
Menpar Widiyanti Putri Wardhana menilai kekayaan wastra Nusantara berpotensi memperkuat modest fashion sekaligus mendorong wisata belanja Indonesia.
Ratusan kilogram cabai merah keriting siap panen dicuri di Pantai Samas, Bantul. Petani diperkirakan merugi jutaan rupiah.
Polri mencatat 371 laporan kasus karhutla hingga 13 Oktober 2026, dengan 223 tersangka perorangan, sembilan korporasi, dan 30.758 hektare lahan terbakar.
RUU Perubahan Iklim ditargetkan rampung pada 2027 untuk memberi kepastian hukum bagi investor dan mendukung kebutuhan investasi iklim Indonesia.
Riset UGM terhadap 2.120 responden menemukan kebijakan komisi ojol 8% belum optimal meningkatkan kesejahteraan karena biaya operasional tinggi.