IDAI Ingatkan Bahaya Telur Mentah bagi Bayi dan Anak

Newswire
Newswire Rabu, 14 Oktober 2026 12:17 WIB
IDAI Ingatkan Bahaya Telur Mentah bagi Bayi dan Anak

Ilustrasi Susu formula. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak-anak karena berisiko memicu infeksi bakteri. Imbauan ini disampaikan menyusul kasus meninggalnya bayi berusia belum genap satu bulan di Surabaya yang diduga berkaitan dengan pemberian telur mentah.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa makanan dan minuman selain Air Susu Ibu (ASI) tidak boleh diberikan kepada bayi baru lahir tanpa indikasi medis. Orang tua juga diminta memperhatikan keamanan pangan serta kesesuaian makanan dengan usia dan kemampuan makan anak.

Telur mentah atau setengah matang berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan atau salmonelosis. Risiko tersebut perlu menjadi perhatian khusus karena infeksi pada bayi dan anak kecil dapat berkembang lebih berat.

"Infeksi ini dapat menimbulkan gejala berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius," kata dokter Piprim.

Telur Matang Lebih Aman untuk Anak

Piprim menjelaskan telur mentah bukan makanan yang sesuai untuk bayi. Selain berpotensi menyebabkan infeksi, mengonsumsi telur mentah atau setengah matang tidak memberikan manfaat gizi tambahan yang sebanding dengan risiko kesehatannya.

Menurut dia, pemberian makanan kepada bayi harus memperhatikan keamanan, tekstur, cara pengolahan, serta penyajian yang sesuai dengan usia dan kemampuan makan anak. Langkah tersebut diperlukan agar makanan yang diberikan dapat mendukung kebutuhan gizi tanpa meningkatkan risiko kesehatan.

Sebaliknya, telur yang dimasak hingga matang dapat menjadi sumber protein berkualitas tinggi dan berbagai zat gizi penting untuk mendukung pertumbuhan anak. Proses pemasakan yang tepat juga membantu meningkatkan keamanan pangan dan daya cerna protein dalam telur.

Telur matang dapat diperkenalkan sebagai salah satu bahan makanan pendamping ASI (MPASI) ketika bayi telah mencapai usia dan menunjukkan kesiapan untuk menerima makanan pendamping.

"Namun, penyajiannya perlu disesuaikan dengan tekstur yang aman serta kemampuan makan bayi," imbuhnya.

MPASI Umumnya Dimulai saat Bayi Berusia 6 Bulan

IDAI mengingatkan pemberian makanan kepada bayi harus mempertimbangkan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan. Aspek-aspek tersebut penting untuk mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak secara optimal.

Sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), MPASI umumnya mulai diberikan ketika bayi berusia 6 bulan. Pada tahap tersebut, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melebihi jumlah yang dapat dipenuhi hanya melalui ASI.

Karena itu, orang tua perlu memastikan makanan pendamping diberikan pada waktu yang tepat dan diolah secara aman. Telur dapat menjadi pilihan sumber protein dalam MPASI setelah bayi siap menerima makanan pendamping, dengan syarat dimasak hingga matang dan disajikan sesuai kemampuan makan anak.

Imbauan IDAI ini menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam memberikan makanan kepada bayi, terutama pada masa awal kehidupan ketika risiko infeksi dan komplikasi kesehatan dapat lebih berat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online