Film Empat Musim Pertiwi Digodok 8 Tahun, Angkat Isu Kekerasan Seksual

Sunartono
Sunartono Selasa, 13 Oktober 2026 19:42 WIB
Film Empat Musim Pertiwi Digodok 8 Tahun, Angkat Isu Kekerasan Seksual

Sutradara, produser dan pemeran Film Empat Musim Pertiwi di sela screening film di XXI Empire. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Film Empat Musim Pertiwi melewati proses panjang selama delapan tahun sebelum akhirnya hadir di layar lebar. Berawal dari gagasan pada 2017, film garapan sutradara Kamila Andini ini mengangkat isu kekerasan seksual, pergulatan penyintas, serta persoalan perlindungan hukum bagi perempuan.

Perjalanan produksi tersebut diungkapkan produser Ifa Isfansyah dan Sutradara Kamila Andini dalam acara screening film Empat Musim Pertiwi di XXI Jogja, Selasa (13/10/2026).

Ifa menjelaskan lamanya proses pengerjaan film berkaitan dengan persiapan produksi, skala proyek, serta riset mendalam terhadap isu yang diangkat. Proses penggarapan secara intensif berlangsung pada rentang 2022 hingga 2023, termasuk pematangan naskah dan persiapan teknis sebelum pengambilan gambar dilakukan.

"Secara riset memang membutuhkan waktu lama. Tema yang diangkat cukup sensitif, dan dari sisi sutradara juga perlu menggali lebih dalam secara subjeknya. Dari sisi produser, film dengan skala produksi dan skill seperti ini membutuhkan kesiapan pembiayaan yang matang, mengingat ini bukan sekadar film hiburan komersial," ujarnya.

Sebagai produser, Ifa menyatakan komitmennya mendukung pesan dan isu sosial yang ingin disampaikan Kamila melalui karya-karyanya. Empat Musim Pertiwi tidak hanya dirancang sebagai tontonan, tetapi juga sebagai medium untuk membuka ruang diskusi publik mengenai kekerasan seksual dan pengalaman para penyintas.

Perjalanan film sejak 2017

Gagasan film ini bermula pada 2017, ketika Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) belum disahkan. Seiring berjalannya waktu, cerita dalam film terus mengalami perkembangan hingga menjadi karya yang akhirnya diproduksi.

"Cerita dalam film ini terus berkembang seiring berjalannya waktu," kata Ifa.

Sementara itu, Kamila Andini menggunakan pendekatan visual yang memadukan gaya realis, fiksi, dan metafora. Pendekatan tersebut dipilih untuk menggambarkan kompleksitas batin serta pergolakan emosi para karakter yang sulit disampaikan melalui penceritaan sederhana.

Melalui perpaduan gaya visual itu, Kamila ingin menggali sisi kemanusiaan yang lebih dalam dari pengalaman seorang penyintas kekerasan seksual.

"Lewat perpaduan gaya realis dan metafora visual, kami ingin menangkap sisi kemanusiaan yang lebih mendalam dari kisah perjuangan seorang penyintas," katanya.

Lukman Sardi soroti persoalan hukum

Aktor Lukman Sardi memberikan apresiasi sekaligus kritik setelah menyaksikan film Pertiwi. Menurut dia, film tersebut mengangkat persoalan penting mengenai rumitnya situasi yang dihadapi perempuan korban kekerasan seksual di Indonesia.

Lukman menyoroti penggambaran hukum yang seolah tidak berdaya ketika berhadapan dengan pihak yang memiliki kekuasaan dan materi. Kondisi tersebut membuat korban seakan kehilangan perlindungan dan harus menghadapi berbagai hambatan struktural.

Selain persoalan hukum, Lukman mengapresiasi penggunaan simbolisme dalam film, termasuk unsur perdukunan. Ia melihat ironi ketika sosok yang tampak menyeramkan justru memberikan rasa aman, sedangkan pihak yang menampilkan diri sebagai orang baik dapat menyimpan kejahatan.

Simbol pelarian seperti UFO juga dimaknainya sebagai pencarian kebebasan dari tekanan ekstrem menuju kekuatan tertinggi. Berbagai simbol tersebut memperkaya cara film menyampaikan persoalan sosial dan pengalaman para karakternya.

Secara keseluruhan, Lukman menilai Pertiwi penting untuk memantik diskusi publik mengenai isu sosial yang belum banyak dibahas secara mendalam. Ia juga memuji penampilan Putri Marino dan jajaran pemain lain yang dinilai mampu membangun emosi cerita dengan baik.

Wakili Indonesia di Oscar 2027

Empat Musim Pertiwi dibintangi Putri Marino dan Arya Saloka. Sebelum penayangannya di Indonesia, film tersebut telah diputar dalam sejumlah festival internasional, termasuk Toronto International Film Festival dan Busan International Film Festival (BIFF).

Selain memperoleh sambutan dalam penayangan internasional, film ini terpilih mewakili Indonesia dalam ajang Academy Awards atau Oscar 2027 untuk kategori Best International Feature Film.

Pencapaian tersebut menempatkan Empat Musim Pertiwi dalam perhatian internasional, sekaligus membawa kisah mengenai kekerasan seksual, pengalaman penyintas, dan persoalan perlindungan hukum ke ruang diskusi yang lebih luas.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online