20 Negara dengan Penduduk Tanpa Afiliasi Agama Tertinggi, Vietnam Masuk Daftar

Jumali
Jumali Sabtu, 10 Oktober 2026 22:27 WIB
20 Negara dengan Penduduk Tanpa Afiliasi Agama Tertinggi, Vietnam Masuk Daftar

Ilustrasi. /Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Tidak semua penduduk di suatu negara mengidentifikasi diri sebagai pemeluk agama tertentu. Di sejumlah negara dan wilayah, kelompok masyarakat yang tidak memiliki afiliasi agama bahkan mencakup sebagian besar populasi.

Fenomena tersebut ditemukan di berbagai kawasan, mulai dari Eropa hingga Asia. Vietnam, salah satu negara di Asia Tenggara, juga masuk dalam daftar wilayah dengan proporsi penduduk tanpa afiliasi agama yang cukup besar.

Laporan Pew Research Center yang diterbitkan pada 2025 menunjukkan bahwa sekitar 24,2% populasi dunia tidak memiliki afiliasi agama pada 2020. Jumlahnya mencapai sekitar 1,9 miliar orang, meningkat dibandingkan 2010 ketika proporsinya tercatat 23,3%.

Kelompok ini dikenal dengan istilah religiously unaffiliated atau masyarakat tanpa afiliasi agama. Kategorinya mencakup orang yang mengidentifikasi diri sebagai ateis, agnostik, maupun mereka yang menyatakan tidak menganut agama tertentu.

Karena itu, penduduk tanpa afiliasi agama tidak serta-merta dapat disebut ateis. Sebagian di antaranya masih memiliki kepercayaan spiritual atau menjalankan praktik keagamaan tertentu tanpa mengidentifikasi diri sebagai pemeluk agama.

Daftar 20 Negara dan Wilayah dengan Penduduk Tanpa Afiliasi Agama Tertinggi

Berdasarkan data Pew Research Center yang dipublikasikan pada 2022, Republik Ceko menempati posisi teratas dalam daftar negara dan wilayah dengan proporsi penduduk tanpa afiliasi agama tertinggi. Korea Utara dan Estonia menyusul di posisi berikutnya.

Vietnam berada di urutan ke-16 dengan proporsi 29,9%. Sementara itu, Jepang, China, dan Korea Selatan juga masuk dalam daftar tersebut.

Berikut daftar 20 negara dan wilayah dengan persentase penduduk tanpa afiliasi agama tertinggi berdasarkan data yang dikutip dalam naskah:

  1. Republik Ceko: 78,4%

  2. Korea Utara: 71,3%

  3. Estonia: 60,2%

  4. Jepang: 60%

  5. Hong Kong: 54,7%

  6. China: 51,8%

  7. Korea Selatan: 46,6%

  8. Latvia: 45,3%

  9. Belanda: 44,3%

  10. Uruguay: 41,5%

  11. Selandia Baru: 39,6%

  12. Mongolia: 36,5%

  13. Prancis: 31,9%

  14. Britania Raya: 31,2%

  15. Belgia: 31%

  16. Vietnam: 29,9%

  17. Swedia: 29%

  18. Australia: 28,6%

  19. Belarus: 28,6%

  20. Luksemburg: 26,7%

Angka tersebut merujuk pada sumber dan periode data yang digunakan dalam pemeringkatan tersebut. Angka-angka itu tidak boleh langsung dianggap sebagai gambaran kondisi terbaru setiap negara.

Mengapa Jumlah Penduduk Tanpa Afiliasi Agama Berubah?

Perubahan afiliasi agama dipengaruhi oleh beragam faktor demografi dan sosial. Pew Research Center mencatat bahwa perpindahan identitas agama atau religious switching menjadi salah satu faktor penting dalam perubahan komposisi agama global selama 2010–2020.

Sebagian orang yang dibesarkan dalam tradisi agama tertentu kemudian tidak lagi mengidentifikasi diri sebagai pemeluk agama tersebut ketika dewasa. Perubahan ini berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah penduduk tanpa afiliasi agama di sejumlah negara.

Namun, kondisi setiap negara tidak sama. Sejarah, budaya, sistem sosial, kebijakan pemerintah, dan cara penduduk menyatakan identitas agama turut memengaruhi hasil pengukuran.

Dengan demikian, tingginya proporsi penduduk tanpa afiliasi agama tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor, seperti tingkat pendidikan atau perkembangan ilmu pengetahuan.

Data Afiliasi Agama Perlu Dibaca Sesuai Konteks

Pew Research Center menggunakan data sensus, survei demografi, survei populasi, dan sumber statistik lain untuk memperkirakan komposisi agama di berbagai negara.

Dalam membaca hasilnya, penting untuk membedakan identitas agama dari keyakinan pribadi. Seseorang yang tidak mengidentifikasi diri sebagai pemeluk agama tertentu belum tentu menolak keberadaan Tuhan atau seluruh bentuk kepercayaan spiritual.

Selain itu, perbandingan antarnegara perlu memperhatikan tahun pengumpulan data dan metode pengukurannya. Dengan begitu, daftar tersebut dapat digunakan sebagai gambaran komposisi agama pada periode tertentu, bukan sebagai penilaian terhadap keyakinan masyarakat suatu negara.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online