Novel Debut Kalis Mardiasih Kupas Trauma Keluarga dan Luka Generasi

Sunartono
Sunartono Minggu, 21 Juni 2026 18:27 WIB
Novel Debut Kalis Mardiasih Kupas Trauma Keluarga dan Luka Generasi

Novel debut Kalis Mardiasih, Makamkan Ibu di Samping Ayah, mengangkat trauma antargenerasi, toxic parenting, dan rekonsiliasi keluarga. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena trauma antargenerasi, kesehatan mental, dan pola pengasuhan yang meninggalkan luka batin kini semakin banyak diperbincangkan masyarakat. Menangkap realitas sosial tersebut, penulis sekaligus aktivis Kalis Mardiasih meluncurkan novel fiksi perdananya berjudul Makamkan Ibu di Samping Ayah, sebuah karya yang mengajak pembaca menelusuri rumitnya hubungan keluarga serta warisan trauma yang terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Novel ini berangkat dari sebuah wasiat yang mengguncang kehidupan sebuah keluarga. Menjelang akhir hayatnya, seorang ibu menyampaikan permintaan terakhir yang mengejutkan: ia ingin dimakamkan tepat di samping mantan suaminya. Permintaan itu menjadi persoalan besar karena sosok ayah tersebut telah lama meninggalkan keluarga dan menjalani kehidupan baru bersama perempuan lain.

Keinginan terakhir sang ibu kemudian menyeret tiga anaknya Aji, Vikra, dan Lini ke dalam perjalanan emosional yang tidak sederhana. Mereka bukan hanya berupaya memenuhi wasiat tersebut, tetapi juga dipaksa membuka kembali lembaran masa lalu, mengurai rahasia keluarga yang selama ini tersembunyi, serta menghadapi luka batin yang membentuk kehidupan mereka sejak kecil.

Melalui enam sudut pandang yang berbeda, Kalis Mardiasih menghadirkan potret keluarga yang terasa dekat dengan realitas sehari-hari. Setiap karakter digambarkan memiliki sisi terang dan gelap yang membuat mereka tampak manusiawi, tanpa pembagian peran yang tegas antara tokoh baik maupun tokoh jahat.

Trauma Antargenerasi Jadi Benang Merah Cerita

Isu utama yang diangkat dalam Makamkan Ibu di Samping Ayah adalah trauma antargenerasi atau intergenerational trauma, yakni kondisi ketika dampak psikologis dari pengalaman traumatis seseorang secara tidak sadar diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Fenomena ini kini semakin mendapat perhatian, terutama di kalangan generasi muda yang mulai kritis terhadap pola asuh dan dinamika keluarga yang mereka alami sejak kecil. Bahkan ketika di medsos beberapa waktu lalu, anak muda saling curhat, orang tuanya NPD, dan lain-lain," katanya di sela-sel peluncuran novel, Minggu (21/6/2026).

Kalis menjadikan tema tersebut sebagai inti cerita. Masing-masing tokoh anak dalam novel ini menunjukkan respons berbeda terhadap luka masa lalu yang mereka hadapi. Aji sebagai anak sulung harus memikul tanggung jawab besar sejak usia muda. Vikra memilih membangun tembok keheningan dan menjauh dari konflik keluarga. Sementara Lini tumbuh dengan kekosongan karena hampir tidak memiliki kenangan bersama ayah kandungnya.

Kekuatan novel ini terletak pada kemampuannya menghindari penghakiman yang terlalu sederhana. Pembaca tidak diarahkan untuk melihat satu pihak sebagai korban mutlak dan pihak lain sebagai pelaku sepenuhnya. Sosok ibu yang selama ini dianggap keras ternyata menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Sebaliknya, keputusan sang ayah meninggalkan keluarga juga digambarkan memiliki latar belakang yang lebih kompleks dibandingkan persepsi yang selama ini berkembang dalam keluarga tersebut.

Penulis Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah, Kalis Mardiasih mengungkapkan bahwa karya fiksi perdana ini tidak dirancang untuk menakar standar kebenaran atau menyalahkan pihak tertentu dalam institusi keluarga.

"Fokus utama buku ini adalah mengajak pembaca menguji kelapangan hati untuk melihat orang-orang yang pernah menorehkan luka dari kacamata kemanusiaan yang utuh, sekaligus merenungkan langkah selanjutnya setelah berhasil memahami situasi tersebut," katanya.

Relevan dengan Isu Toxic Parenting dan Healing

Kehadiran novel ini dinilai sangat relevan dengan maraknya diskusi mengenai toxic parenting, parentification, hingga intergenerational healing yang ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Beragam konten yang viral menunjukkan semakin besarnya kebutuhan masyarakat terhadap ruang diskusi yang aman untuk membahas pengalaman traumatis dalam keluarga.

Di tengah derasnya arus informasi digital, Makamkan Ibu di Samping Ayah menawarkan ruang refleksi yang lebih mendalam. Novel ini tidak menghadirkan jawaban instan atas persoalan keluarga, melainkan mengajak pembaca menelaah berbagai pertanyaan penting mengenai makna rekonsiliasi, batas antara memahami dan membenarkan kesalahan masa lalu, serta kemungkinan hadirnya kembali kehangatan dalam keluarga yang pernah mengalami keretakan.

Melalui kisah yang emosional dan penuh lapisan makna, novel debut Kalis Mardiasih tersebut menjadi salah satu karya yang menyoroti isu kesehatan mental, trauma keluarga, dan proses penyembuhan luka batin dengan pendekatan yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online