Laba Pertamina Tembus Rp55,2 Triliun pada 2025, Ini Pendorongnya
Pertamina membukukan laba bersih Rp55,2 triliun sepanjang 2025. Kinerja ditopang sektor hulu, hilir, gas, hingga energi rendah karbon.
Ikan purba coelacanth pertama kali berevolusi pada periode awal Devonian, sekitar 400 juta tahun yang lalu. Ikan ini sempat dinyatakan punah namun ternyata masih eksis di lautan hingga saat ini.- ist/Bisnis.com
Harianjogja.com, JAKARTA—Ikan purba coelacanth pertama kali berevolusi pada periode awal Devonian, sekitar 400 juta tahun yang lalu. Ikan ini sempat dinyatakan punah namun ternyata masih eksis di lautan hingga saat ini.
Para ahli, sebelum coelacanth ditemukan kembali pada tahun 1938, berasumsi bahwa coelacanth telah punah pada akhir periode Cretaceous, 65-70 juta tahun yang lalu.
Dilansir dari Forbes, Coelacanth adalah contoh takson Lazarus, hewan yang tampaknya hilang dari catatan fosil dan ditemukan kembali dalam bentuk yang sama jutaan tahun kemudian.
Hal ini dapat terjadi karena beberapa alasan. Sering kali, hal ini menyoroti betapa sporadis dan tidak lengkapnya catatan fosil, terutama ketika jumlah individu dalam takson tertentu rendah.
Komunitas zoologi terguncang pada tahun 1938 ketika seorang pegawai museum berusia 32 tahun, Marjorie Courtenay-Latimer, yang bekerja di kota kecil London Timur di Afrika Selatan, dihadiahi seekor ikan yang tidak dapat diidentifikasi. Ikan ini ditangkap oleh nelayan lokal saat memancing di luar muara Sungai Chalumna di Eastern Cape, Afrika Selatan.
Courtenay-Latimer juga tidak dapat mengidentifikasi ikan tersebut, jadi dia melakukan taksidermi dan mencari pendapat dari seorang ahli Profesor James Leonard Brierley Smith, seorang dosen universitas dan ahli kehidupan laut.
Dia mengatakan ikan itu memang seekor coelacanth purba. Penemuan ini mengejutkan komunitas zoologi dan mendapatkan pengakuan internasional baik dari Brierley Smith maupun Courtenay-Latimer.
Menariknya, spesimen kedua baru ditemukan setelah 15 tahun. Coelacanth kedua ditemukan pada tahun 1952 oleh dua nelayan di Kepulauan Komoro–rangkaian pulau kecil yang terletak di antara Madagaskar dan daratan Afrika.
BACA JUGA: Libur Panjang Maulid Nabi, PAD Gunungkidul Terdongkrak hingga Rp600 Juta Lebih
Pada 1990-an, para ilmuwan kembali membuat penemuan penting, menemukan spesies coelacanth kedua di kepulauan Indonesia.
Jadi, saat ini, coelacanth terbagi dalam dua spesies: coelacanth Samudera Hindia Barat (Latimeria chalumnae), terutama ditemukan di dekat Kepulauan Comoro di lepas pantai timur Afrika, dan coelacanth Indonesia (Latimeria menadoensis).
Secara keseluruhan, kombinasi adaptasi evolusioner, stabilitas lingkungan, dan relung ekologi khusus yang dimiliki coelacanth telah membantunya bertahan melalui perubahan signifikan dalam sejarah bumi. Berikut adalah beberapa alasan mengapa coelacanth purba mampu bertahan dalam ujian waktu.
Coelacanth memiliki sejumlah ciri fisiologis unik yang cocok untuk mereka selama jutaan tahun. Misalnya, sirip dada mereka yang berbentuk lobus, yang diperkirakan merupakan cikal bakal anggota tubuh vertebrata darat, mampu beradaptasi dengan baik untuk bermanuver di lingkungan bawah air yang dalam dan kompleks.
Coelacanth menghuni lingkungan yang dalam dan stabil, seperti gua bawah air dan laut dalam, yang tidak banyak berubah seiring berjalannya waktu secara geologis. Lingkungan ini memiliki lebih sedikit predator dan lebih sedikit persaingan, sehingga membantu coelacanth menghindari tekanan evolusi yang drastis.
Coelacanth memiliki tingkat metabolisme yang relatif rendah, sehingga memungkinkan mereka bertahan hidup di lingkungan di mana makanan mungkin langka. Metabolisme mereka yang lambat berkontribusi pada kemampuan mereka untuk menahan perubahan lingkungan dalam jangka waktu lama.
Relung ekologi mereka—biasanya di perairan dalam dan dingin—tidak banyak berubah. Stabilitas di habitatnya berarti mereka menghadapi lebih sedikit tekanan untuk beradaptasi dibandingkan dengan spesies yang hidup di lingkungan yang lebih bervariasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Pertamina membukukan laba bersih Rp55,2 triliun sepanjang 2025. Kinerja ditopang sektor hulu, hilir, gas, hingga energi rendah karbon.
Korban gempa Venezuela capai 1.430 jiwa, lebih dari 300 gempa susulan terjadi, ribuan warga luka dan kehilangan tempat tinggal.
Gunung Semeru erupsi 4 kali, kolom abu capai 1.000 meter. Status siaga, warga diminta jauhi zona bahaya.
Bareskrim Polri gagalkan penyelundupan 325 kg sabu jaringan Thailand-Aceh, dua tersangka ditangkap, nilai barang Rp585 miliar.
Batu ginjal sering tanpa gejala. Simak penyebab, tanda, dan cara pencegahannya menurut dokter urologi.
Latsarmil KDMP telan 5 korban jiwa. Akademisi UGM minta evaluasi total karena dinilai tak relevan dengan tugas manajer koperasi.