Sering Mengorok pada Orang Obesitas Bisa Jadi Tanda OSA
Kebiasaan mengorok pada orang dengan obesitas perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan OSA dan meningkatkan risiko fibrilasi atrium.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA - Menstruasi merupakan hal alamiah pada perempuan. Sebagian perempuan mengalami perubahan suasana hati menjelang atau selama menstruasi, seperti mudah bad mood atau sering marah-marah.
Sindrom pramentsruasi (PMS) ini memengaruhi sebagian besar perempuan usia subur dengan banyak perempuan merasakan perubahan suasana hati pada hari-hari sebelum menstruasi.
Gejala menstruasi seperti mudah tersinggung, marah dan perubahan suasana hati ini merupakan gangguan bulanan bagi kebanyakan perempuan. Sedangkan, PMS yang parah bisa melemahkan emosi bagi sebagian perempuan.
Baca juga: 10 Kalimat Paling Menjengkelkan Dalam Rapat Jarak Jauh
Tapi, mengatasi PMS dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup bisa membantu perempuan mengontrol perubahaan mood dan kesulitan emosional lainnya.
PMS bisa menyebabkan perubahan suasana hati yang liar dan tak terkendali pada beberapa perempuan, biasanya berubah dari rasa sedih menjadi ledakan kemarahan dan serangan kecemasan.
"Anda akan mengetahui naik turunnya emosi seorang perempuan karena PMS, jika hal itu terjadi secara konsisten seminggu hingga 2 minggu sebelum menstruasi. Lalu, hal ini akan berhenti pada satu atau dua hari setelah menstruasi," kata Carol Livoti, ginekolog New York City dan rekan dari American College of Obstetricians dan Ginekolog dikutip dari Every Day Health.
Gejala PMS yang berupa perubahan suasana hati ini terjadi selama fase terakhir (luteal) dari siklus menstruasi yang dimulai setelah ovulasi, biasanya dari hari ke-14 hingga 28 dari siklus bulanan perempuan.
Baca juga: Psikolog: Bercocok Tanam di Rumah Bisa Ciptakan Kesehatan Mental
Gejala PMS emosional lainnya yang paling umum termasuk sifat mudah marah, depresi, mudah menangis, kepekaan berlebihan, gugup dan cemas, kesedihan dan amarah yang bergantian.
Menurut para peneliti, gangguan emosional ini terjadi diduga terkait dengan naik turunnya hormon, khususnya estrogen sepanjang siklus menstruasi.
Kadar estrogen mulai meningkat secara perlahan setelah menstruasi perempuan berakhir dan mencapai puncaknya dua minggu kemudian.
"Kemudian tingkat estrogen turun dan mulai naik perlahan sebelum turun lagi tepat sebelum menstruasi dimulai," jelas Livoti.
Gejala PMS ini bisa diperburuk dengan stres akibat perceraian, kehilangan pekerjaan dan tekanan lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hormon perempuan berinteraksi dengan bahan kimia otak dengan cara memengaruhi suasana hati penderita PMS.
"Penurunan kadar estrogen selama fase luteal dari siklus menstruasi mungkin bisa menyebabkan penurunan serotonin. Meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan," kata Livoti.
Karena, kadar serotonin yang lebih rendah berhubungan dengan depresi, mudah marah dan meningkatnya nafsu makan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Kebiasaan mengorok pada orang dengan obesitas perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan OSA dan meningkatkan risiko fibrilasi atrium.
John Herdman menyebut kartu merah Thom Haye saat Indonesia vs Malaysia menjadi pelajaran penting bagi skuad Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026.
Jadwal SIM Keliling Bantul September 2026 lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, serta syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.
Basarnas mengerahkan seluruh unsur SAR di Kalteng mencari 64 korban KM Virgo Transport 8. Sebanyak 179 orang telah ditemukan.
Jadwal SIM Keliling Jogja Selasa 29 September 2026 tersedia di sejumlah lokasi. Cek jam layanan, syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.
Jadwal KRL Jogja-Solo Selasa 29 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Cek jam keberangkatan tiap stasiun dan tarif KRL Rp8.000.