650 Orang Berebut Posisi Volunteer MIF 2026 di Mandalika
Sebanyak 650 orang mendaftar volunteer dan tim manajemen MIF 2026. Manajemen akan memilih 100 orang untuk ajang internasional di Mandalika.
Ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, JOGJA - Memiliki rumah tangga yang sejahtera adalah impian setiap orang. Sementara, lingkungan tempat kita tinggal bisa menjadi faktor yang membantu mewujudkan impian itu.
Menurut sebuah penelitian yang dikumpulkan oleh parenting blogger Asher & Lyric, Amerika Serikat bukanlah tempat terbaik untuk membangun rumah tangga, baik selama pandemi Covid-19 atau tidak.
Faktor-faktor yang memengaruhi penilaian ini adalah:
- Keamanan (tingkat pembunuhan, jumlah penembakan di sekolah per kapita)
- Biaya (persentase dari pendapatan bersih yang digunakan untuk biaya perawatan anak, dari biaya perawatan kesehatan)
- Kebahagiaan (survei World Happiness Report, skor ketidaksetaraan dalam indeks GINI yang diperingkat oleh Bank Dunia)
- Kesehatan (angka kematian ibu, persentase populasi yang terpapar polusi udara di atas batas WHO)
- Pendidikan (tingkat pendaftaran sekolah, kinerja membaca dan matematika anak usia 15 tahun)
- Waktu (jam rata-rata orang dewasa bekerja per tahun sebagaimana dikumpulkan oleh OECD, cuti melahirkan dan cuti ayah yang dibayar)
Iniah yang mereka temukan, peringkat negara yang paling buruk untuk membangun rumah tangga:
1. Meksiko
Tingkat pembunuhan per 100.000 orang: 3,41
Persentase pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk biaya pengasuhan anak: n/a (tidak tersedia)
Skor ketimpangan menurut indeks GINI (dengan 63 sebagai yang tertinggi): 48,2
Angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup: 38
Kinerja membaca rata-rata untuk anak usia 15 tahun yang diperingkat oleh OECD (dengan 538 adalah yang tertinggi): 420
2. Amerika Serikat
Tingkat pembunuhan per 100.000 orang: 6.12
Persentase pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk biaya pengasuhan anak: 23%
Skor ketimpangan menurut indeks GINI (dengan 63 sebagai yang tertinggi): 45
Angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup: 14
Kinerja membaca rata-rata untuk anak usia 15 tahun yang diberi peringkat oleh OECD (dengan 538 sebagai yang tertinggi): 505
3. Chili
Tingkat pembunuhan per 100.000 orang: 4,46
Persentase pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk biaya pengasuhan anak: n/a (tidak tersedia)
Skor ketimpangan menurut indeks GINI (dengan 63 sebagai yang tertinggi): 50,5
Angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup: 22
Kinerja membaca rata-rata untuk anak usia 15 tahun yang diperingkat oleh OECD (dengan 538 adalah yang tertinggi): 452
4. Turki
Tingkat pembunuhan per 100.000 orang: 2,12
Persentase pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk biaya pengasuhan anak: 3%
Skor ketimpangan menurut indeks GINI (dengan 63 sebagai yang tertinggi): 40,2
Angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup: 16
Kinerja membaca rata-rata untuk anak usia 15 tahun yang diperingkat oleh OECD (dengan 538 adalah yang tertinggi): 466
5. Bulgaria
Tingkat pembunuhan per 100.000 orang: 2,53
Persentase pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk biaya pengasuhan anak: 8%
Skor ketimpangan menurut indeks GINI (dengan 63 sebagai yang tertinggi): 40,2
Angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup: 11
Kinerja membaca rata-rata untuk anak usia 15 tahun yang diperingkat oleh OECD (dengan 538 adalah yang tertinggi): n/a (tidak tersedia)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : suara.com
Sebanyak 650 orang mendaftar volunteer dan tim manajemen MIF 2026. Manajemen akan memilih 100 orang untuk ajang internasional di Mandalika.
Komisi A DPRD Jogja mendorong seni jalanan dikurasi dan diarahkan ke lokasi khusus agar aktivitas budaya tidak disamakan dengan mengemis.
Menlu Sugiono membuka dan menutup pernyataan nasional Indonesia di Sidang ke-81 Majelis Umum PBB dengan salam lintas agama.
Shopee, TikTok Shop, dan Tokopedia dinilai berpotensi masuk kategori risiko tinggi PP Tunas seperti Lazada dan Blibli.
Lomba Ayam Bekisar Piala Jogja Istimewa ke-3 diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai daerah dan mengangkat pelestarian budaya serta satwa.
Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri lolos semifinal Asian Games 2026 dan membidik emas setelah menang atas pasangan Korea Selatan.