Pasien Positif Covid-19 Sebagian Sakit Berat dan Sebagian Tidak, Ini Penjelasannya

Nindya Aldila
Nindya Aldila Sabtu, 25 April 2020 21:47 WIB
Pasien Positif Covid-19 Sebagian Sakit Berat dan Sebagian Tidak, Ini Penjelasannya

Petugas medis bersiap memeriksa masyarakat di Michigan Health Professionals Covid-19 melalui fasilitas pengujian di Millennium Medical Group di Farmington Hills, Michigan, Amerika Serikat, Selasa (7/4/2020)./Bloomberg-Emily Elconin

Harianjogja.com, JAKARTA — Jumlah kasus positif virus Corona di seluruh dunia terus meningkat. Sebagian pasien Covid-19 menunjukkan gejala sakit berat dan sebagian lainnya hanya flu biasa membuat virus ini menjadi penyakit yang sulit diprediksi.

Dilansir dari The Atlantic, pada awal Maret, seorang penulis berumur 37 tahun, F.T. Kola merasa demam dan seluruh badannya sakit. Setelah mengisolasi diri di rumah selama sepekan, dia direkomendasi oleh dokternya melakukan tes swab di Stanford University.

Namun, keadaannya memburuk yang ditandai dengan menggigil dan berhalusinasi. Dia berpikir ada sendok raksasa yang ingin dimasukkan ke dalam mulutnya. Setelah itu, dia dibawa ke ICU selama tiga hari.

Selama itu, dia kadang merasa sakitnya berat, tetapi terkadang tidak sama sekali. Kola keluar rumah sakit setelah dirawat dua pekan.

Berbeda lagi dengan rekannya, Karan Mahajan yang terinfeksi Covid-19 di saat yang hampir bersamaan. Namun, Mahajan hanya merasakan flu sedang yang berakhir dalam 2 pekan.

Berdasarkan studi baru dari Italia, sebanyak 43 persen orang yang terpapar virus ini tidak menunjukkan gejala.

Orang-orang itu akan menjadi sesak napas, jantung mereka berdetak kencang dan pikiran terlepas dari kenyataan. Mereka mengalami kegagalan organ dan menghabiskan berminggu-minggu di ICU, jika mereka masih bertahan hidup.

Robert Murphy, professor obat dan direktur penyakit menular Northwestern University mengatakan banyak perbedaan pada setiap orang saat terkena virus.

“Itu sangat tidak biasa. Tidak satu pun dari variabilitas ini benar-benar cocok dengan penyakit lain yang biasa kita tangani,” ujarnya.

Seperti banyak diinformasikan, golongan orang tua dan memiliki riwayat penyakit akan lebih berisiko terpapar Covid-19. “Bukan virusnya, tapi jaringannya (host),” lanjutnya.

Ternyata informasi tersebut masih jauh dari gambaran lengkap tentang siapa yang berisiko terkena penyakit yang mengancam jiwa ini.

Uji klinis telah dilakukan terhadap sejumlah obat-obatan seperti remdesivir, ivermectin, dan hydroxychloroquine. Namun, dengan adanya penyakit flu dan virus lainnya, obat antivirus seringkali efektif hanya pada awal penyakit.

Begitu virus telah menyebar luas di dalam tubuh, sistem kekebalan kita sendiri menjadi ancaman yang bisa membunuh. Respons itu tidak dapat sepenuhnya dikendalikan, tetapi dapat dimodulasi dan ditingkatkan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online