Pemutihan Denda PBB Klaten 2026, Bayar Pokok Saja hingga 31 Desember
Pemkab Klaten hapus denda PBB 2020-2025. Warga cukup bayar pokok pajak hingga 31 Desember 2026.
Ilustrasi buang angin/Shutterstock
Harianjogja.com, JAKARTA- Buang angin alias kentut dijadikan sebuah kompetisi oleh masyarakat India.
Jika di Indonesia kentut menjadi sebuah hal tabu dan menjijikkan, namun tidak halnya dengan negara di bagian Gujurat, India pekan ini. Kentut yang biasanya dihindari karena baunya yang tak sedap justru dijadikan sebuah kompetisi.
Kompetisi ini mencari seseorang yang bisa menghasilkan suara kentut terpanjang dan terkeras dengan bunyi yang selaras. Kompetisi ini memang terlihat sangat tidak lazim, mengingat kentut adalah aib seseorang. Kompetisi ini digagas oleh Yatin Sangoi, seorang yang antusias terhadap gas sekaligus seorang penyanyi asal India.
Seperti diketahui, kentut adalah proses pengeluaran gas dari dubur/anus akibat akumulasi gas di dalam perut. Proses pengeluaran gas ini biasa ditandai dengan rasa mulas pada perut.
Adanya bakteri serta reaksi kimia antara asam perut dan cairan usus menghasilkan karbondioksida. Selain itu, bakteri yang terakumulasi juga menghasilkan gas metana dan hidrogen yang membuatnya berbau tidak sedap.
Lebih lanjut Sangoi menjelaskan bahwa dirinya sangat termotivasi oleh apa yang dia lihat sebagai sebuah kearifan lokal India. Ia mengaku ingin membuat kentut menjadi sebuah hal yang normal untuk dilakukan manusia, mengingat saat ini menilai kentut adalah sesuatu yang tabu dan menjijikkan.
"Saya kentut di tengah-tengah menonton film dengan keluarga saya dan salah satu dari mereka malah tertawa dan mengatakan bahwa jika ada kontes kentut maka saya akan menang," terang Sangoi, sebagaimana dilansir VT, Selasa (17/9/2019).
Saat itulah Sangoi mulai tersadar ketika kontes kentut bisa diikuti oleh beberapa negara-negara di dunia seperti China, Inggris dan Amerika Serikat (AS) dan bahkan memiliki piala dunia.
Hal seperti inilah yang tidak dimiliki oleh negara seperti India, oleh sebab itu Sangoi berusaha keras untuk menormalkan proses kentut.
"Bahkan 20-25 tahun yang lalu, orang biasa kentut secara terbuka, tetapi sekarang mereka sudah menjadi canggih dan menganggapnya kotor, sering dipermalukan karena kentut di depan umum. Bahkan ketika dokter akan memberi tahu Anda bahwa kentut adalah salah satu fungsi tubuh manusia yang paling sehat," lanjutnya.
Untuk mempublikasikan acara tidak konvensionalnya, Sangoi telah memulai kampanye dengan #FreeTheFart, yang kabarnya telah menarik lebih dari 40 peserta untuk mendaftar, dari berbagai daerah seperti Mumbai, Hyderabad dan Jaipur.
Kompetisi ini memperebutkan hadiah uang tunai senilai sebesar 5.000 dan 15.000 rupee atau setara Rp980 ribu dan Rp2,9 juta. Sangoi berharap bahwa ia dapat mengubah kentut menjadi fenomena umum di seluruh dunia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone.com
Pemkab Klaten hapus denda PBB 2020-2025. Warga cukup bayar pokok pajak hingga 31 Desember 2026.
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing membahas Taiwan, AI, tarif dagang, hingga Selat Hormuz.
Semen Padang siap tampil maksimal melawan Persebaya Surabaya meski sudah dipastikan terdegradasi dari BRI Super League 2026.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I-2026. Menkeu Purbaya menyebut konsumsi rumah tangga jadi penopang utama daya beli.
Jemaah haji asal Probolinggo meninggal dunia di Makkah setelah dirawat di ICU akibat gagal napas. Almarhum sempat menunaikan umrah wajib.
Pemerintah segera terbitkan aturan baru e-commerce yang mengatur transparansi biaya marketplace dan perlindungan UMKM serta seller.