Meski Sibuk Berkegiatan, Ini Tips Menjaga Tubuh Tetap Sehat
Semakin tercukupi zat gizi harian, makin maksimal mekanisme kerja tubuh sehingga kesehatan akan tetap terjaga agar tetap produktif
Aktris pemeran film Kartini, Dian Sastrowardoyo menyapa penggemar saat Meet and Greet Kartini di Atrium The Park Mall, Solo Baru, Sukoharjo, Minggu (16/4)./JIBI-Nicolous Irawan
Harianjogja.com, JAKARTA - Dian Sastrowardoyo termasuk salah satu artis yang jarang menceritakan kehidupan pribadinya.
Namun, ada satu rahasia mengenai tumbuh kembang putranya, Shailendra Naryama Sastraguna Sutowo yang akhirnya diungkapkan ke publik.
Siapa sangka, ternyata putra sulung Dian terdiagnosa autisme yang gejalanya mulai terlihat sejak usia 6 bulan.
Hal ini disampaikan secara terbuka oleh Dian saat menjadi salah satu narasumber dalam konferensi pers SPEKIX (Special Kids Expo) 2019 di JCC Senayan, Jumat (23/8/2019).
Awalnya, pemeran Cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta? ini sempat curiga ketika sang buah hati jarang sekali melakukan kontak mata dengannya serta lebih fokus mengerjakan sesuatu sendiri seolah memiliki dunianya sendiri.
Padahal sebagai orang tua, Dian sangat ingin bisa membangun bonding dengan putranya.
"Saya waktu itu sangat merindukan bisa bonding dengan anak. Saling menatap dan bermain bersama tapi itu tidak bisa saya dapatkan," ujarnya.
Kecurigaannya kian bertambah ketika putranya yang sudah disekolahkan sejak usia 6 bulan tersebut, sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada sekitar.
Saat anak lain ikut bermain dan mengikuti guru, putranya malah fokus dengan hal lainnya. Perbedaan ini terasa sangat kental.
Dian kemudian tidak ingin tinggal diam. Nalurinya sebagai seorang ibu langsung merasa ada yang janggal pada tumbuh kembang anaknya.
"Ternyata betul setelah dicek ke tiga dokter tumbuh kembang, dan psikolog, anak saya memamg terdiagnosa autism," ungkapnya.
Meski sang suami, Maulana Indraguna Sutowo sempat menyangkal bahwa putranya mengidap autis, wanita lulusan Filsafat UI ini tetap mengikuti nalurinya untuk segera melakukan intervensi serta melakukan terapi khusus untuk sang buah hati. Mulai dari terapi prilaku, terapi wicara, dan terapi okupasi.
"Akhirnya kita langsung buka diri, mending intervensi sedini mungkin ketika melihat ada ciri yang berbeda pada anak."
Beruntung, setelah dilakukan intervensi sedini mungkin sejak putranya berusia delapan bulan hingga empat tahun, kini Shailendra tidak perlu lagi diterapi sejak usia 6 tahun karena sudah lebih bisa membuka diri, berkomunikasi dua arah, dan senang bersosialisasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Semakin tercukupi zat gizi harian, makin maksimal mekanisme kerja tubuh sehingga kesehatan akan tetap terjaga agar tetap produktif
PSEL Regional DIY mundur hingga 2028, DLH Sleman bentuk pendamping pengelolaan sampah di 17 kapanewon dan 86 kalurahan.
Simak daftar lengkap jalur Trans Jogja aktif beserta tarif terbaru dan sistem pembayaran nontunai di Yogyakarta.
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa
Simak jadwal lengkap KA Bandara YIA 15 Mei 2026. Kereta beroperasi sejak dini hari hingga malam untuk mendukung mobilitas penumpang.
Cuaca DIY hari ini diprediksi didominasi hujan. Sleman berpotensi diguyur hujan sedang dengan kelembapan udara tinggi.